Menelusuri Pantai Ngunggah dengan Sepeda

Menelusuri Pantai Ngunggah dengan Sepeda


ANDINUGRAHA | Hayo kapan kalian terakhir gowes? Semenjak punya sepeda pertama di Jogja, aku sering banget bersepeda keliling Yogyakarta. Baik pagi, sore ataupun malam. Seneng aja suasana kota pelajar ini buat sepedahan. Udah gitu masih banyak juga orang-orang yang bersepeda. Berasa sudah punya banyak teman.

Sepeda BMX pertama yang aku punya dulu warnanya hitam, hasil nabung akhirnya dapet kebeli juga. Meskipun sederhana tapi bisa mengantarkanku keliling di kota Gudeg ini. Dulu sepedaku kebetulan pake gear kecil, sehingga cukup capek kalau melakukan perjalanan jauh.

Melihat teman pake sepeda gunung aku jadi tertarik untuk punya juga. Perlahan nabung untuk ganti sepeda BMX yang aku punya. Setelah punya aku jadi banyak rencana untuk explore kota Yogyakarta ke tempat-tempat istimewanya.

Sayangnya, ditahun 2015 aku kehilangan Eni, nama sepeda kesayanganku. Huhuu.. Sedih sih, karena sepeda itu aku dapat hasil dari nabung sedikit demi sedikit yang aku sisihkan setiap harinya. Setelah itu hobyku bersepa tetap berlanjut. Meskipun belum ada sepeda lagi, aku sesekali pinjem teman untuk bersepeda sore hari keliling Malioboro, kadang juga ke alun-alun ataupun sekedar gowes sembari cari makan.

Bulan Agustus 2016 aku dan Endro, teman satu kost di Reges Kost Salakan merencanakan untuk sepedahan ke tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya. Mulai dari referensi tempat wisata yang sedang hits sampai juga ke tempat yang belum banyak orang tahu.

Nasib Endro juga sama seperti aku, dia pernah kehilangan sepedanya disaat dia bekerja. Sama-sama hilangnya pagi hari, bedanya Endro kehilangan sepeda masih dalam suasana Subuh, sedangkan aku diatas jam 7 pagi. Semoga yang membawa sepeda kami tanpa izin, Allah ampuni dosanya, dan gak terjadi pada kalian semua ya.

Setelah Endro dapet pinjaman sepeda dari mas Ale, dan aku dari kang Ir, akhirnya kami memutuskan untuk sepedahan dihari Minggunya. Padahal malam itu kami masih diskusi mau kemana sepedahan besok paginya. Salah satu referensi kami selain google, kami sering mendapatkan informasi dari mas Mawi, di mblusuk.com

Setelah cari di blog mas Wami, Endro dapet referensi tempat, yaitu pantai. Namanya pantai Ngunggah, kami baru mendengar dan tau gambaran lokasinya lihat dari blog mas Mawi yang diupdate tanggal 8 Oktober 2014.

Waktu itu mas Mawi sendirian, ah masa kami gak kesana sih, sepertinya seru. Ucap kami dengan semangat!

Pantai Ngunggah ini beralamat di Jalan Menukan, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan pantai yang akan kami datangi berada di daerah Giriwungu, Panggang, Kabupaten Gunung Kidul.

Bisa kalian lihat peta lokasinya seperti gambar dibawah ini.
 

Kami sengaja melihat peta perjalanan menuju pantai ngunggah dengan jalan kaki. Jika dilihat dari peta jalan kaki membutuhkan waktu 7 jam 1 menit. Jadi kami pikir akan lebih cepat menggunakan sepeda. Syukur bisa menempuhnya dengan 3-4 jam sampai. Satu hari sebelum gowes aku sengaja pemanasan untuk gowes keliling alun-alun kidul dan Malioboro.

Malamnya kami saling mengingatkan agar jangan tidur larut malam karena besok rencananya berangkat sedari pagi. Setelah sholat Subuh Endro mandi terlebih dahulu, aku sendiri menunggu giliran karena ada teman-teman yang lainnya sedang mandi juga.

Setelah mandi hingga beres-beres barang yang mau kami bawa utnuk sepedahan. Kami berangkat Selasa pagi, pukul 05.30. Selain semangat, kami juga tak lupa untuk berdoa agar diperjalanan selamat sampai tujuan, pun hingga pulang kembali ke kost.

Perjalanan sepedahan kami kali ini tidak membawa bekal makan seperti gowes biasanya. Endro menyarankan untuk beli disana saja yang murah dan enak. Okeh deh, siap. Ucapku mengiyakan.

Setelah satu jam bersepda, ternyata warung makan yang mau kami ampiri tutup. Sayang banget, padahal perut mulai keroncongan. Karena bokong sudah terasa panas, kami putuskan untuk istirahat terlebih dahulu di dekat toko samping jalan.

Gowes kali ini aku menggunakan sepeda berwarna putih punya kang Irwanto, sedangkan Endro menggunakan sepeda merah. Indonesia banget kan kami. Merah dan putih.


Toh juga ini masih bulan Agustus, merdeka!
Setelah cukup istirahatnya, kami lanjutkan perjalanan kembali. Pagi itu kami dari Jl. Menukan, Salakan, lokasi kost tempat kami tinggal menuju pantai Ngunggah lewat jalan Imogiri. Ternyata semakin jauh roda sepeda kamiberputar,  semakin tinggi juga jalan yang harus kami lewati.

Karena capek, kami pun sampai gak kuat untuk mengayuh sepeda di jalan tanjakan. Alhasil kami menuntunnya hingga jalan datar kembali. Beberapa kali Endro mengajaku untuk istirahat, karena capek dan waktu itu muka Endro terlihat merah tidak seperti biasanya.

Sebenarnya Endro sendiri kurang kurang fit, karena semalaman tidak tidur, sibuk dengan codingnya yang belum bisa dia pecahkan. Kemudian belumnya sarapan, membuat Endro terlihat lemas. Terakir makan di kost sore harinya.

Gak peduli berhenti dimana, disaat kami capek, kami putuskan untuk istirahat. Waktu itu dipinggir jalan, dekat rerumputan yang tidak bergoyang. Sebenarnya aku kasihan sama Ednro, dia terlihat seperti tak berdaya karena kelelahan. Keringat bagaikan air yang bercucuran. Abaikan muka lelah kami ya, Guys.


Inilah jalan yang kami lewati. Memang halus dan akan mudah untuk dilewati kendaraan termasuk sepeda. Namun tingginya tanjakan yang belum bisa kami lewati. Mau tidak kamu kami harus istirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. TDari pada terjadi apa-apa, mendingan langsung istirahat begitu badan terasa capek. 


Selain memperhatikan badan yang lelah, kami juga tak lupa untuk meriksa keadaan sepeda terutama ban sepeda dan rem. Kami rasa untuk jalanan yang turun akan sangat memerlukan rem.


Di jalan ini belokannya sedikit curam, sehingga tidak semua orang yang melewat bisa melihat apakah di depan ada kendaraan atau tidak. Jadi selama melewati jalan ini kami jalan dengan menuntun sepeda. Selain tidak mungkin di kayuh karena jalan juga nanjak.


Tidak disadari juga sepatu yang aku gunakan kotor disaat istirahat. Memang sih kami gak begitu merhatikan, kalau udah capek rasanya ingin tiduran aja. Rumput pun seakan kasur kost yang empuk dan nyaman.


Lagi-lagi kami menemukan jalanan yang nanjak. Terpaksa harus jalan kaki agar dapat melewati jalan itu. Banyak orang yang lewat memperhatikan kami terus. Wajar sih, dengan muka yang bercucuran keringat menuntun sepeda dijalan tanjakan.  Mungkin dalam hati mereka berkata, "Itu dua orang gak ada kerjaan apa ya? Jalanan seperti ini dilewati dengan sepeda..haha." 

Tak lama Endro memintaku untuk istirahat kembali, tapi kali ini berbeda. Dia seperti memaksa harus istirahat. Ternyata Endro sudah tidak kuat karena capek. Bahkan dia meminta izin untuk tidur dulu 5 menit. Lebih baik gitu, kalau ada apa-apa bilang, daripada terjadi apa-apa kan?

Sejauh ini sepedahan sama Endro, baru kali ini dia sampai kecapean seperti ini. Wajar sih, mengingat malam harinya dia tidak bisa tidur dan sampai siang belum terisi makanan sedikit pun.


Kurang lebih ada 10 menitan kami istirahat. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan pelan dan santai yang penting sampai. Namun semakin siang panasnya semakin menyengat tubuh. Selama perjalanan kami sering sekali istirahat kalau capek dan tidak bisa melanjutkan.

Selain tidur, kami juga minum dan ngemil agar perut terisi. Tidak hanyak yang kami bawa diperjalanan ini. Hanya ada keripik, minum, sarung dan yang satu lagi senjatanya Endro yakni rokok. Karena rokok mahal jadi dia beralih ngelinting, menggunakan mbako.

Tapi bekal yang dibawa Endro jangan kalian tiru ya, gak baik. Penyakit kok dibawa.. Haha. Aku jaga paling enggak jaga jarak kalau dia sedang menghirup racun ini...Hehe..


Tak lupa juga tisu basah always kami bawa. Itu tisu cukup awet kami gunakan. Semenjak mendaki ke ke gunung Prau padahal. Tapi bukan berarti setiap tisu yang sudah digunakan disimpan kembali lho ya. Biasanya tisu basah kami gunakan setelah makan atau sedang bersih-bersih muka.


"Kenapa harus seperti ini ya, hanya untuk pergi ke pantai ngunggah."  Ucapku dalam hati sembari melanjutkan perjalanan. 

Sempet kepikiran nyesel di perjalanan gowes kali ini. Selain jauh, jalannya juga ampun dah, nanjak banget buat kami. Tapi kami tetap penasaran, seindah-indahnya pantai yang baru terlihat dari internet saja, rasanya kurang puas. Semangat, semangat. Kami saling menyemangati.

"Sebentar lagi sampai kok, Ndi. Nanti di depan ada warung.", Ucap Endro sembari memberikan semangat padaku.
"Oke, Mas. Semangat.", Jawabku yang udah haus banget, pengen cepet ketemu warung dan minum.

Senangnya bukan main, ternyata di depan sudah terlihat warung. Yang tadinya aku tuntun sepedaku, aku kayuh kembali. Haus banget pengen minum siang itu. Yang aku pikirkan minum dan minum..haha

Sesampainya di warung aku langsung ke dalam, mengambil minuman dingin yang ada di kulkas. Dengan diawali bismillah dan doa, mashaa Allah, nikmah banget ya Allah. Kebayang gak sih kalau kalian ada di posisi kami.


Ditemani angin yang sepoi-sepoi, rasanya terbayar perjalanan kami di tanjakan tadi. Kalau dari tadi ada warung ini pasti aku sudah tidak kehausan dijalan karena bekal minumnya habis. Tapi ini beda cerita, ada perjuangan, ada hasil. Capek dulu, baru nemu minum.

Eittss.. Ini belum sampai lho ya, habis minum dan santai ini, kami masih harus melanjutkan perjalanan lho.


Padahal banyak pilihan makanan, tapi tidak banyak yang aku inginkan. Rasanya minum saja sudah cukup. Dari berangkat kami merasakan kenyang air, tapi mau gimana lagi harus sih. Dari warung itu pun kami tak membeli makanan apapun untuk dibawa dalam perjalanan.

Dengan harapan nanti disana juga ada, jadi gak usah beli biar gak jadi beban juga dalam tas yang kami bawa.


Selain minuman dingin, aku membeli roti dan agar untuk mengganjal perutku yang kosong. Padahal hanya dengan minum perutku terasa kenyang. Meskipun hanya aku yang beli, itu makanan aku bagi dua, tentu yang sebelah buat Endro. Meskipun sedikit tak ada salahnya untuk berbagi. Iya gak, Guys?

Setelah dimakan habis, kami melanjutkan perjalanan melewati jalan raya lagi. Aku kira udah gak nemu jalan nanjak, ternyata masih. Siang itu kemi melewati jalanan yang banyak orang sedang bekerja bakti.

Tak lama ada yang bilang dan tanya padaku, "Mas itu keringatnya kaya mandi saja", ada juga yang tanya "dari mana mas?," Macem-macem pokoknya, setiap aku ditanya dari mana, aku jawab dari Yogyakarta. Merekka kaget, karena jauh-jauh menggunakan sepeda. Endro sendiri memilih untuk menjawab, lagi ngelatih fisik. Tapi memang benar, jika kami satu minggu seperti ini terus bakal kurus nih badan. Haha!

Sesekali melakukan perjalanan gowes sejauh ini seru sih, capeknya pasti akan terbayar setelah sampai. Kalian jadi gak sabar kan untuk tahu seperti apa indahnya pantai Ngunggah? Lanjut baca aja sampai selesai ya.

Buat yang gak biasa gowes jauh, pasti langsung merasakan pegal, gak cuma dikaki tapi juga badan. Tapi apapun itu kami melakukan ini dengan senang. Karena bersepeda merupakan hobi. Jadi setiap bersepeda kemana pun, sejauh apapun. Resiko harus tetap ditanggung sendiri. Capek dan ngeluh merupakan satu paket perjalanan.

Tapi jujur ngeluh yang aku rasakan waktu itu bener-bener terbayar setelah sampai ditempat tujuan. Boleh lho kalian coba gowes ke tempat yang jauh seperti kami juga.

Dalam perjalan gowes kami, kadang aku duluan setelah itu istirahat. Endro sendiri dibelakang, nanti aku nungguin di depan. Yang penting jangan ninggalin, mau gimana pun harus kompak.


Begitu Endro menghampiriku yang sedang istirahat, aku sengaja gak bangun karena masih terasa capek. Biarkan dia lanjut terlebih dahulu, nanti aku nyusul dibelakang kalau sudah mendingan rasa sakit di kaki ini.

Di depan Endro sudah menungguku sembari istirahat. Aku mempercepat jalannya agar cepat dan bisa istirahat bareng. Gak lama dari samping terdengar suara orang yang berjualan cilok. Kami pun membelinya untuk mengganjal perut yang sudah laper kembali. Cukup beli Rp. 5.000,- saja jadi dua bungkus. 


Kalau dilihat sih seperti bukan cilok. Karena ini digoreng, untuk bumbunya sendiri sama seperti cilok-cilok pada umumnya. Sembari menunggu aku bertanya, "Pak kalau jarak ke pantai Ngunggah berapa KM lagi ya kira-kira ?" Bapaknya menjawab, "Kurang lebih 6-7 KM lagi mas. Ini saya juga mau daerah sana."

Mendengar jawaban bapak itu pikiranku langsung terbuka. "Wah sepertinya disana bisa makan-makan, dekat pantai, angin sepoi-sepoi, rasanya enak sekali." Aku jadi tak sabar ingin cepat sampai. 


Rasa ciloknya cukup enak, apalagi kalau ada minumnya. Terlihat enaknya dari cara gorengnya, pas gak terlalu kering dan gak terlalu lembek juga, ditambah bumbu pedasnya cukup meresap. Aku jadi teringat salah satu makanan di tempatku dulu, tapi aku lupa namanya apa. Biasanya ketika SD dulu sering membelinya.

Seringnya menemukan perjalanan naik, begitu dapet perjalanan turun, kami sangat senang. Bisa santai tanpa mengayuh pedah sepeda. Sesekali kami memperhatikan terus terus petunjuk arah yang ada jalan. Salah satunya seperti ini, kebetulan sempat aku abadikan juga.


Aku kira setelah melewati petunjuk jalan itu tinggal sebentar lagi sampai. Ternyata masih jauh dan hampir sepanjang jalan tak ada tempat untuk berteduh. Hingga akhirnya aku berteduh di samping tenda tempat orang-orang menyimpan kendaraannya untuk bekerja. Kebetulan banyak orang yang sedang bekerja di salah satu bangunan.


Uniknya disitu ada hiasan mobil replika yang keren. Meskipun panas aku tetap senang bisa melihat proses penyelesaian bangunan itu. Meskipun tidak hampir 100% selesai, karena aku istirahat hanya sebentar saja. Itupun karena aku ingin minum. Setelah selesai kami lanjutkan perjalan kembali.

Setelah kurang lebih 15 menitan melanjutkan perjalanan,  kami menemukan angkringan. Pas banget buat ngisi perut yang sudah lapar kembali. Begitu sampai aku langsung pesen es teh. Kalau rasa es tehnya cocok, aku bisa nambah sampai 2-5 gelas.


Angkringannya cukup lengkap dan berbeda dari angkringan pada umumnya. Angkringan ini tidak menjual nasi kucing melainkan menjual makanan seperti halnya rumah makan. Hanya saja penyajiannya disajikan di sebuah angkringan. Selain dilengkap dengan mendoan, banyak juga lauk yang lainnya. Ada sayur-sayuran, daging ayam hingga ceker sekalipun ada.

Endro sendiri mengambil ceker hingga habis 2. Sedangkan aku sendiri kurang begitu suka dengan ceker, apalagi ceker yang ada di dalam seblak  yang cara masaknya dikukus.. agak gimana gitu...Haha Jadi ketika aku makan rasanya seperti ceker yang masih mentah.. Mungkin kalian lebih suka seperti itu.


Asiknya minum hingga nambah membuatku cukup kenyang. Awalnya malah aku gak mau makan. Tapi karena sudah di pesankan jadi harus aku makan. Jangan lihat muka lelahku yang berkucuran keringat ya.

Begitu pesanan makanku dateng, aku cukup kaget dong. Porsinya banyak, terlebih ini di angkringan. jarang banget aku nemuin yang seperti ini. Tapi akhirnya bisa habis juga. Haha..


Meskipun lama menghabiskannya tapi Endro dengan sabar menungguku. Disini aku habis 2 gelas es teh, karena rasanya pas dan enak. Setelah selesai kami membeil air dalam aqua untuk persediaan disaat istirahat nanti.

Gak terasa waktu sudah pukul 11.30 saja, itu artinya sebentar lagi adzan Duhur berkumandang. Sudah saatnya bekal sarung digunakan, kebetulan banget di depan ada sebuah masjid yang bernama Masjid Asalam yang terlat di Dusun Widoro, Desa Giripurwo.


Waktu itu masih sepi karena belum memasuki waktu sholat Duhur. Aku cuci tangan, kaki hingga muka dan lanjut tiduran di teras Masjid. Di tempat ibadah itu rasanya adem, air untuk wudunya juga segar ketika dibasuhkan ke muka. Kalau buat mandi lebih seger lagi pasti. Warna Masjidnya aku sangat suka, hijau warna kesukaanku.


Tempat palkirnya juga dekat dengan tempat wudlu. Jadi cukup tenang untuk istirahat. Meskipun aman, tapi setidaknya kami waspada takut terjadi apa-apa dengan sepeda yang kami bawa. Jangan sampai seperti yang sudah-sudah terulang kembali. Sepeda kami berdua hilang dibawa orang yang tidak bertanggung jawab.

Tapi aku berfikir positif saja. Allah pasti punya rencana lain dan akan menggantinya untuk yang lebih baik. Terkait waktunya entah kapan. Meskipun saat ini belum ada sepeda tapi banyak teman-temanku yang baik dan mau meminjamkannya. Meskipun tidak bisa setiap hari gowes tapi setidaknya rasa kangen untuk mengayuh pedah terobati.

Tak lupa juga aku selalu membawa koas kesayanganku untuk pergi gowes. Biasanya aku membawa lebih dari satu koas setiap pergi main. Alasannya agar ditempat yang belum aku kunjungi sebelumnya bisa mengabadikan foto dengan beberapa kaos atau pakaian yang berbeda. Jadi selama backgroundnya sama, pemandangannya sama. Setidaknya pakaian yang aku kenakan berbeda. 


Di kaosku masih berlamatkan blogku andinugraha.com sekarang beralih ke klikandi.com ya. Biar lebih mudah. Eh, tapi bukan itu sih alasannya, karena blogku yang dulu ke banned. Sedih banget deh.

Oke, lanjut ya ke perjalanan ke pantai ngunggah.
Begitu kami sedang istirahat di teras masjid, gak lama ada seorang warga yang datang ke Masjid dengan rapih seperti Ustadz. Aku rasa beliau mau adzan di Masjid. Kami pun ditanya mau kemana, setelah diberitahu mau ke pantai Ngunggah. Beliau juga tahu bahwa pantai Ngunggah tersebut memang belum banyak orang yang tahu. Masih asri juga. Beruntung banget kalau kami bisa datang ke pantai itu.

Gak lupa juga kami menanyakan rute untuk sampai ke pantai. Karena satu-satunya cara yang akurat selain google maps ya tanya sama warna setempat. Kebetulan masjid tempat kami shalat duhur juga sinyalnya kurang bagus.

Setelah adzan kemudian kami sholat berjamaah, disusul para warga dan guru yang hendak sholat juga. Karena lokasi Masjid dengan sekolah tidak terlalu jauh. Setelah selesai sholat, kami melanjutkan untuk beres-beres dan tidak lupa juga untuk cuci kaki dan muka lagi. Kebetulan aku membawa pembersih muka, parfum pakaian, dan yang tak pernah lupa yaitu sisir. Kadang sisir bawa 2. Yang satu khusus untuk aku pribadi dan yang satu lagi untuk teman-teman yang mau pinjem. 

Meskipun panas, angin yang lewat membuat kami kembali segar, ditambah sudah cuci muka. Segerrr. Gak lama kami dapet kejutan juga, melewati jalanan turun yang cukup panjang. Saking semangatnya aku sampai melewati petunjuk jalan yang bertulisan Pantai Ngunggah. Untung Endro memanggilku sebelum aku terlalu jauh nyasar.


Setelah masuk kawasan ke pantai Ngunggah, kami tidak melewati jalan aspal lagi. Melainkan jalan setapak yang sudah di cor dengan semen. Dengan itu akan lebih mudah juga untuk dilewati kendaraan. Sedikit bingung juga sih dengan arah dari petunjuk arah pantai. Lagi-lagi kami tanya warna dan akhirnya dikasih petunjuk jalan.

  
Ternyata jalanan gak mulus terus, kami bertemu dengan jalan bebatuan juga. Tidak hanya itu, jalanan naik dan turun kami juga dapet. Sebelumnya beberapa jalan turunan dapat aku lalui dengan lancar. Ketika menemukan turunan yang lebih curam dengan bebatuan yang besar-besar, tiba-tiba rem sepedaku bermasalah alias tidak berfungsi sama sekali.

Kalian bisa bayangkan seperti apa waktu itu. Aku seperti terbang melewati jalan yang penuh dengan bebatuan itu. Andaikan waktu itu aku tak bisa mengontrol keseimbangan, mungkin saja aku akan terjatuh. Untungnya juga jalanan gak ramai, jadi aku bisa dengan bebas mengarahkan sepeda ke arah mana saja.


Sedikit kesel sebenarnya akan perjalanan gowes kali ini, karena susahnya perjalanan yang dilewati. Ingin rasanya pulang tapi sebentar lagi sampai. Udah gitu bekal aqua tinggal setengahnya lagi. Tapi pikirku nanti disana akan ada orang yang jualan minum dan makanan sejenisnya.

Endro sendiri tidak mengalami hal sepertiku karena rem sepedanya masih berfungsi dengan baik. Gak lama aku mendengar suara motor yang membuntutiku, ternyata ada seorang bapak yang membawa anjing di belakangnya yang akan pergi ke pantai Ngunggah juga.


Karena capek kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Bapak itu pun berhenti dan ikut ngobrol bareng. Sembari istirahatnya, Endro menyempatkan untuk membuat lintingan rokok yang dia bawa dalam tas. 

Setelah cukup untuk istirahat kami melanjutkan perjalanan kembali. Ternyata gak hanya bapak tadi yang berada di daerah menuju pantai Ngunggah. Banyak juga ibu-ibu dan mereka kebanyakan jalan kaki. Baik yang sedang mencari rumput ataupun mencari kayu.

Karena sebenatar lagi sampai, kami mempercepat perjalannya untuk sampai ke pantai Ngunggah. Kata bapak yang tadi ngobrol dengan kami, di dekat pantai ada gubuk yang bisa digunakan untuk istirahat. Mendengar itu kami sangat senang dan berharap ingin cepat-cepat tidur sembari melepas lelah.


Alhamdulilah bisa sampai dengan selamat, disambut langsung dengan birunya lautan. Seolah mengucapkan selamat datang kepada kami.

Begitu bisa istirahat di gubuk ini, aku merasakan dua hal bersamaan, senang dan kecewa. Senangnya sudah sampai ke pantai. Kecewanya gak ada satu orang pun yang jualan.
Tapi aku mengganggapnya wajar, karena pantai Ngunggah sendiri masih asri dan belum banyak orang yang tahu. Mungkin kalian juga yang ada di Yogyakarta masih asing mendengarnya. Yang jelas aku bersyukur bisa menapakan kaki di pantai ini dengan bersepeda.

Tapi jujur pantainya indah, terlebih kalau pagi dan sore. Lebih adem karena tidak panas. Dari kejauhan kami dapat menikmati ketinggian tebing dari gubug tempat kami istirahat.


Pantainya masih terlihat asri, sepi tak terdengar suara banyak orang. Yang kami dengar gemuruh ombak di lautan. Warna sekitar yang tadi aku ceritakan khususnya yang cari rumput. Mereka harus turun ke bawah. Sedangkan kendaraannya di simpan di gubug tempat kami istirahat.


Andaikan bisa mengajak teman-temanku yang lain kesini passti mereka juga akan senang. Selain indah pantai ini membuatku takjub atas ciptaan-Nya. Dan memang benar-benar nyata adanya. Aku tidak melihat lewat internet saja, tapi secara langsung. Alhamdulilah.


Karena masih capek, kami istirahat terlebih dahulu di gubug tersebut sembari tiduran beberapa menit. Awalnya kami berencana menginap di pantai ini. Tapi setelah dipikir-pikir kami membatalkannya saja.

Pertama gak ada yang jaulan di pantai ini, kedua akses dari jalan raya menuju pantai juga cukup jauh. Kurang lebih ada satu jam-an. Udah gitu masih banyak hewan-hewan seperti anjing gitu. Daripada terjadi apa-apa, lebih baik kami pulang setelah puas main dipantai.


Setelah cukup istirahatnya, Endro mengajaku untuk melihat pantainya lebih dekat. Tapi harus turun ke bawah, jalannya pun belum begitu terlihat. Rasanya seperti jalan ke semak-semak. Aksesnya begitu kecil tapi banyak juga warga yang mencari rumput atau sekedar mancing di pantai Ngunggah ini melwati jalanan yang kecil itu.


Kalau mau ke pantai Ngunggah harus hati-hati. Apalagi kalau mengguanakan sepatu atau sandal yang licin. Selain tumbuh-tumbuhan, ada juga pohon bambu disekitar jalan menuju pantainya yang membuat suasana menjadi horor. Terlebih kalau malam, duh takut..haha


Semakin kaki ini turun menyusuri semak-semak jalan setapak menuju pantai. Suara gemuruh ombak semakin jelas terdengar. Birunya laut sudah terlihat dari kejauhan. Ingin rasanya cepat-cepat melihat dari dekat, ingin menginjakkan kaki di atas pasir pantai ngunggah.

am.

Alhamdulilah aku ucapkan, akhirnya sampai juga. Tepat pukul 13.30 kami dapat menginjakkan kaki di pantai ngunggah. Bisa kalian hitung berapa jam untuk sampai di pantai ini dengan menggunakan sepeda. Kami dari kost pukul 06.30 sampai di pantai Ngunggah pukul 13.30. Kurang lebih perjalanan untuk sampai membutuhkan waktu 8 jam.

Lamanya luar biasa, 8 jam ini sama halnya dengan aku mudik dari Yogyakarta ke Ciamis. Itupun menggunakan mobil. Apa iya aku harus mencoba pulang ke Ciamis dengan bersepda? Ehehe..

Setelah melewati jalan semak-semak, akhirnya kami sampai dibawah juga. Dan terlihat begitu jelas pantainya. Di sekitar pantai juga terlihat ada orang yang mau mancing ikan. Itupun satu orang, selain itu kami gak melihat orang lain lagi.

Yang ada aku dan Endro. Bener-bener sepi pantainya, terlihat sendiri dari jalan yang semak-semak itu artinya belum banyak orang yang datang ke pantai ini.

Kami bersyukur bisa mengayuhkan kaki menggunakan sepeda untuk sampai kesini. Meskipun capek tapi terbayar dengan keindahan pantainya.


Endro sendiri langsung bergegas membuka baju luar, melepas lelah dengan basah-basahan. Aku sendiri langsung mengabadikan momen ini dengan selfie. Jarang-jarang aku selfie kalau tidak di tempat yang bagus dan baru aku kunjungi. Terlebih di pegunungan selfie merupakan hal yang wajib.


Batunya terlihat bersih, kalau dibawa pulang buat hiasa di akua rium pasti bagus. Orang yang mau mancing tadi entah ke sebelah mana, tak terlihat lagi. Yang ada hanya kami berdua, bener-bener serasa tempat ini milik kami.

Mungkin orang yang mancing tadi sore hari baru pulang dan sepertinya tidak mungkin juga kalau sampai malam disitu. Kalaupun iya harus membawa penerangan.



Setelah asiknya bermain air, tak lama Endro kelelahan dan terkapar diatas batu. Udah berasa kasur di kamar kost aja pasti tuh. Aku kira sekedar tiduran saja, eh ternyata dan benar-benar tidur pulas.

Selain jalannya jauh, kami juga sepertinya kembung kebanyakan minum air. Apalagi Endro belum tidur semalaman. Kurangnya istirahat akan mengganggu kesehatan emang, terutama ketika kita melakukan aktifitas, seperti halnya gowes ke pantai ngunggah ini.


Kata Endro sendiri menaruh batu diatas kepala seperti halnya terapi. Tapi entah terapi apa, mungkin saja bisa membuatnya tenang, masalah dalam fikiran hilang. Puasnya Endro tidur, dimanjakan juga oleh suara gemuruk ombak.


Uniknya pantai Ngunggah ini, terdapat banyak tebing yang terlihat. Bahkan baru sampai gubug tempat beristirahat pun langsung terlihat tebing indah dipandang. Kabarnya banyak juga warga yang mencari rumput laut di pantai ini. Kemudian ada juga salah satu tebing yang mengelilingi pantai ini yang terdapat mata air.

Dimana mata air ini disebut mata air sumur Watutumpeng. Banyak juga para warga sekitar yang memanfaatkannya untuk  kebutuhan air tawar sehari-hari. Seperti halnya memasak, mandi dan mencuci.

Meskipun dibalik tebing tepat Endro teduh disiang hari tapi kalau ingin lebih dekat ke pantai bagusnya disore hari karena tidak panas.


Aku duduk lama sembari melihat ombak, rasanya tenang, beban dalam fikiran hilang. Beberapa kali ombak datang menghampiriku. Namun aku tetap duduk dan membiarkan ombak menyapu pasir yang sampai ke kakiku. Indahya ciptaan-Mu yaa Allah.

 
"Birunya lautan terlihat jelas disaat siang,
saat lagit begitu biru teranng benderang,
semilir angin membelai lembut walau tak kelihatan
membuat diri ini takjub atas ciptaan-Mu Tuhan"
-Andi Nugraha-


Tak lupa juga untuk menuliskan sesuatu di pasir pantai Ngunggah ini. Terutama www.andinugraha.com Blog aku pribadi yang sejak  2013 aku jadikan diary. Selain aku, orang lain juga bisa membuka dan membacanya.

Sayangnya andinugraha.com seperti yang aku bahas diatas tadi udah ke banned, dan sekarang ganti ke klikandi.com ya


Karena Endro tidur, aku pilih bermain saja sendiri. Jadi teringat masa kecil dulu. Di pantai Ngunggah ini selain corat-coret di pasir, aku juga mainan air, batu dan tak lupa juga membuat video.

Berkali-kali aku mengamati keadaan sekitar, takutnya ada orang lain juga yang datang ke pantai ini. Tapi sampai satu jam lebih masih tetap sepi. Mungkin dihari itu hanya kami saja yang main ke pantai ini. Selain itu warga sekitar yang mencari rumput ataupun mancing tadi belum terlihat lagi.

Tak terasa ternyata Endro tidur sudah hampir satu jam. Aku rasa capeknya sudah mulai hilang dan segar kembali. Setelah aku bosan main sendiri, aku kemudian datang menghampiri batu dimana Endro tidur. Aku pun tidur disampingnya dan istirahat. Meskipun sebenatar berharap bisa menyegarkan badan yang lelah ini.


Sebenarnya aku hanya tiduran saja, karena dibawa merek susah banget. Beda halnya dengan Endro yang belum tidur semalam lebih cepat tidurnya.

Sembari tiduran aku membayangkan, gimana kalau jadi nginep. Gak kebayang kan sepinya gimana. Siang aja sepi apalagi kalau malam hari. Udah gitu belum ada pencahayaan, belum ada MCK juga.

Aku menunggu Endro bangun untuk bilang lagi tidak jadi nginep, lebih baik pulang saja. Terkait remnya blog tidak masalah, nanti kita cari bareng bengkel yang ada di sekitar jalan sembari mencari makan. Selain itu kami mencari aman takut terjadi apa-apa kalau tidur di pantai Ngunggah ini.


Begitu Endro bangun, ternyata dia juga ngajak pulang saja. Iya sih melihat suasana seperti itu terlalu beresiko untuk menginap. Dari tepi pantai ke gubuh aja lumayan, apalagi ke jalan raya. "Lebih baik kami istirahat di masjid sembari sholat ashar aja nanti," Ucap Endro.

Di pantai ini, kami dapat menghilangkan stres dan segala penat yang ada. Keindahan pantai Ngunggah membuat kami merasa lebih senang dan tenang, meskipun untuk sampai di pantai ini penuh dengan perjuangan. Tapi rasa capek kami hilang dan terbayar puas..

Ada sebuah penelitian membuktikan bahwa udara segar dipinggir pantai mampu membuat paru-paru bernafas lebih lancar. Begitu juga dengan angin sepoi-sepoinya. Tidur pun menjadi lebih nyenyak, rasa capek selama bersepeda diperjalanan bisa diobati di pantai Ngunggah ini. Melepas lelah sembari menikmati indahnya suasana pantai.

Menurutku pantai adalah cara mudah dan murah untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas yang membuatku penat. Entah itu dari rutinitas kuliah ataupun kerjaan. Lebih asik lagi kalau pergi ke pantai dengan bersepeda. Jadi lebih terasa perjuangannya.

Selain itu, pantai juga bisa memberiku kesempatan untuk menikmati manfaat sinar matahari. Terlalu banyak beraktifitas di ruangan itu tidak baik, sehingga kurangnya vitamin dari sinar matahari untuk tubuh kita.

Air laut tak hanya untuk dilihat saja, melainkan asik juga untuk dimainkan, atau mungkin bagi yang hobi berenang bisa juga memanfaatkannya. Sekitar pukul 16.00 kami memutuskan untuk pulang. Beres-beres tas, menggunakan sendal dan sepatu.

Begitu bangun terlihat banget segarnya badan Endro. Lihat aja senyumnya difoto bawah ini;


Secara gak langsung kami ke pantai ini cuma pengen istirahat aja ya. Ahaha. Endro sendiri mainan air bentark, lebihnya full istirahat, aku sih masih bisa mainan air dan pasir.

Senenarnya kami masih kangen dengan pantai ini. Apalagi di sore hari, selain teduh lebih mudah juga untuk menelusuri pantai dengan bebas. Tapi karena waktu sudah sore dan mengingat perjalan yang jauh. Jadi kami memutuskan untuk pulang dan tak lupa selfie dulu sebelum naik ke gubug..hehe


Bacground fotoku ini arah menuju jalan setapak tadi. Terlihat masih banyak pepohonan ya, sekilas seperti gak ada jalan terlihat.


Ketika pulang aku menemukan bunga, entap apa namanya tapi sepertinya cukup bagus apalagi warnanya yang ping. Kalau kalian tahu boleh dishare kolom komentar nanti, apa nama bunga ini.


Kurang lebih 15 menit untuk sampai ke gubug tempat sepeda kami disimpan. Dari jauh terlihat dengan gagahnya sepeda kami berdiri. Meskipun ketika dibawah kami khawatir takut kenapa-kenapa sepedanya. Kalau sampe hilang akan susah kami menggantinya dan akan susah juga untuk pulang sampai ke kost.

Terlihat ada motor didekat gubuh, mungkin punya orang yang mencari rumput atau kayu.


Jalan yang kami lewati pun akan tetap sama seperti berangkat tadi. Akan bertemu jalan yang rusak menanjak dan turun. Sehingga kami memilih jalan dengan menuntun sepeda. Banyak juga para warga yang baru pulang mencari rumput. Ada yang menggunakan motor, ada juga yang jalan kaki.


Ketika pulang bertemu 3 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yang hendak pergi ke pantai Ngunggah. Namun mereka menggunakan sepeda motor, meskipun demikian tetap saja susah dinaikin dan akhirnya di tuntun.

Tapi selang 5 menit mereka melewatiku tak lama mereka sudah pulang kembali. Aku rasa mereka hanya sampai gubuk, kalau untuk sampai ke bawah sepertinya akan lama. Karena pemandangannya juga indah.


Selama mengayuh sepeda, kami sering banget istirahatnya. Bahkan beberapa kali dilewati ibu-ibu yang sedang jalan sembari menggendong barang bawaannya. Begitu juga bapak-bapaknya. Aku sendiri sampai malu beberapa kali dilewati oleh ibu-ibu yang jalan. Mereka semua terlihat begitu kuat, tak pernah berhenti berjalan meskipun membawa barang bawaan.

Tapi jujur jalan untuk sampai ke pantai Ngunggah benar-benar sulit terutama menggunakan sepeda. Mungkin kalau sepeda yang khusus untuk dijalan seperti itu akan lebih mudah. Tapi sesusah apapun  kami berhasil melewatinya. Dengan pernuh semangat dan perjuangan tentunya. Alhamdulilah.


Setelah sekian lama berhenti dan beristirahat di tepi jalan, dan di rerumputan, terkadang dimana aja sih asalkan tempat itu nyaman. Gak lama kami bertemu lagi dengan jalan yang lumayan mulus, alias di cor semen. Itu artinya sebentar lagi kami bertemu jalan raya.

Sebelum bertemu jalan raya, kami melihat ada pos ronda, kami manfaatkan untuk beristirahat. Begitu bertemu lagi dengan jalan cor-coran, mulai dijalan ini juga sudah ada penerangan dari beberapa rumah warga.

Kami berencana untuk tidak melewati jalan yang pertama kali kami lewati. Kami memilih jalan yang berbeda yakni melewati jalan parangtritis. Jauhnya mungkin sama, tapi untuk jalannya tidak terlalu banyak naik dan turunnya. Hanya saja ada beberapa jalan yang terus turun hingga sampai lokasi losmen dekat pantai Parangtritis. 

Karena rem sepeda yang aku tunggangi tidak berfungsi sehingga pulangnya harus ekstra hati-hati. Terutama disaat bertemu dengan jalanan turun. Kebetulan untuk pulang, Endro meminta gantian untuk menggunakan sepeda denganku. Karena kasihan melihatku terus-terusan jalan ketika jalan yang turun.

Perjuangan ketika pulang lebih sulit dibandingkan dengan berangkat. Larut malam, gelap dan tak terlihat apapun. Mesekipun sudah dijalan raya kami tetap saja harus hati-hati. Karena melewati hutan dan harus menunggu kendaraan yang lewat barulah kami mendapat penerangan lampu.

Cukup panjang jalanan yang gelap tanpa cahaya lampu. Baterai handphone kami yang jadi penyelamat, alhamdulilah masih cukup baterainya.

Sama seperti berangkat, begitu capek istriahat, kami gak pernah memaksakan untuk terus melanjutkan perjalanan. Beberapa kali kami tertidur di atas rumput yang kami anggap seperti kasur kost kesayangan. Selain tidur kami juga mencoba mencari warung untuk membei minum. Aku merasa capek sekali dan hampir putus asa.

Malam itu Endro berada di depan meluncur lebih cepat karena melewati jalan turunan. Aku sendiri tertinggal di belakang, gelap tak ada cahaya dan tiba-tiba kakiku kram tak bisa digerakin sama sekali. Itu terjadi 2 kali. Aku bingung karena sendirian, dan aku teriak keras karena kesakitan. Dan memanggil Endro untuk kembali.

Karena tak kuat sakit kaki, kram. Aku tergeletak begitu saja di rerumputan samping jalan. Baru kali ini aku merasakan kram yang cukup sakit. Biasanya setiap sepak bola ataupun futsal tak pernah merasakan sakitnya kram seperti sepedahan kali ini.

Agar lebih enakan kakinya, kami putuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Karena capek dan rem yang gak berfungsi, kami memilih untuk jalan kaki saja. Alhamdulilahnya begitu sedang jalan didepan sudah terlihat penerangan lampu dari rumah warga.

Endro bergegas untuk mengayuh sepedanya duluan. Mudah-mudahan ada warung yang bisa kami gunakan istirahat dan makan. Dan alhamdulilah Endro dapet angkringan prasmanan. Dia sendiri sudah ada di dalam sedang minum es teh. 


Selain es teh, Endro juga mengajaku pergi ke dalam untuk makan gorengan sembari duduk manis melihat sinetron anak jalanan. Mau tidak mau harus aku tonton karena orang yang punya warung melihat film itu. Kami hanya bisa melihat sembari minum dan makan gorengan.


Es teh di angkringan ini alhamdulilah dapat mengobati rasa hausku. Satu buah gorengan juga sedikit bisa mengganjal perutku yang sedang lapar. Meskipun disampingnya terdapat tukang bakso. Tapi kami tak tertarik untuk membeli. Kami memilih nanti saja disana, karena perjalanan juga masih jauh.


Setelah cukup terobati hausnya kami melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi aku hampir putus asa dijalanan. Ingin rasanya aku beristirahat tidur dengan nyenyak di kamar kost. Tapi jaraknya masih jauh sekali 25 KM lebih. Pikiranku sudah tidak karuan karena capek. Ingin rasanya aku menyewa mobil untuk mengangkut sepedaku agar tidak capek mengayuhnya.

Beberapa kali aku membujuk Endro agar mau diajak naik mobil. Tapi dia malah tidak mau dan terus menyemangatiku, "bentar lagi sampai kok, kita harus sabar." Dengan nada tidak semangat aku menurutinya.

Sekitar kurang lebih 2 jam jalan sembari menuntun sepeda kami merasa kelelahan. Setiap bertemu dengan rumput aku langsung tergeletak tidur. Sembari tiduran, mataku melihat indahnya langit penuh bintang. Gak lama ada seorang bapak-bapak menghampiri kami dan bertanya, "Kenapa mas ?", Kami menjawabnya dengan tenang, "Tidak apa-apa pak, kami hanya istirahat kecapean." Mungkin pikir bapak yang lewat kami kenapa-kenapa. Karena tertidur di tempat yang gelap.

Perlahan kami menyusuri jalan di sepanjang losmen dekat pantai parangtritis. Selang beberapa menit kami menemukan sebuah angkringan. Dan kami mampir sejenak untuk menikmati es teh lagi. Bedanya di angkringan ini ada sayap ayam yang bisa dimakan untuk mengganjal perutku.

Endro sendiri memilih untuk memakan ceker dan es teh satu gelas dan satu gelas lagi teh anget. Dia langsung di borong karena saking laparnya. 


Di angkringan ini aku sengaja tidak menambah es tehnya karena memang sedikit berbeda rasanya. Seperti yang pernah aku bilang diatas, kalau aku cocok pasti aku nambah, kalau gak cocok bahkan sampai gak habis pun pernah.

Entah kenapa di angkringan yang ini rasa es tehnya sedikit pait atau kalau dalam bahasa sunda itu hangit. Jadi masak airnya terlalu lama dan berpengaruh terhadap rasa airnya.


Meskipun ada nasi kucing, aku belum tertarik untuk makan nasi. Begitupulan dengan Endro yang hanya makan ceker ayam saja ditambah dengan rokoknya yang setiap habis makan satu lintingan.  


Setelah selesai dari angkringan Endro mengajaku untuk pergi ke pom bensis karena dia kekenyangan dan ingin ke kamar mandi. Aku sendiri mengiyakan dan memilih untuk tidur di dekat sepeda yang aku parkir. Tak peduli banyak orang atau tidak, karena badanku sudah capek jadi tidur saja. Sembari tiduran aku sengaja membuka handphone dan mengaktifkan paket data. 


Setelah aku aktifkan datanya, banyak sekali pesan masuk tak terbendung. Mulai dari BBM, whatsapp, SMS, e-mail, facebook dan messanger. Melihat whatsapp ada beberapa panggilan dari Ibu. Karena sejak pergi ke pantai aku belum sempat memberitahunya. Tak lama ayahku juga menelfon dan menanyakan kabarku. 

Begitu juga dengan ibu tak lama menelfon. Mungkin dikasih tahu ayah kalau nomerku sudah aktif kembali. Setelah ibu telfon aku cek jam, ternyata sudah pukul 22.30. Wajar saja kalau ibu dan ayah khawatir dengan keadaanku.

Meskipun kami terpisah jarak. Ibu di Ciamis, Aku di Yogyakarta dan Ayah di Depok. Tapi kami cukup sering ngobrol via telfon digabungkan, bahkan punya jadwal tersendiri juga untuk telfon secara bersamaan. Kedekatan kami seakan seperti tinggal satu atap.

Kebetulan kami istirahat di pom bensin parangtritis KM 22. Itu tandanya aku harus menempul kurang lebih 19 KM lagi untuk sampai di kost. Karena tempat tinggal kami selama di Jogja kurang lebih ada di jalan parangtritis KM 3.

Setelah Endro keluar dari kamar mandi, bukannya pulang tapi dia malah mengajaku untuk tidur terlebih dahulu. Waktu berjalan begitu cepat, gak terasa kami istirahat sampai pukul 23.30. Setelah itu Endro mengajaku untuk makan mie ayam.

Bukan gak mau, tapi jam segitu apakah ada yang masih jualan. Sembari mengayuh peda sepeda menuju kost dengan jeli mata kami melihat kanan kiri, mudah-mudahan masih ada orang yang jual mie ayam.

Gak lama Endro memanggilku,
"Ndi, itu lho itu.. ayo kesana, itu ada mie ayam.",
dengan nada yang kaget juga aku menjawab,
"ah seriusan masih ada yang jualan mie ayam jam segitu".
Ternya masih ada lho.

Tanpa pikir panjang, kami langsung mampir, tepat pukul 23.40 kami duduk sembari nunggu pesanan mie ayam datang. Alhamdulilah sih ini, lagi pengen eh ada, alhamdulilah.


Terlihat sepi wajar, karena sudah malam. Tapi ujar sang pemilik mie ayam tutupnya semaunya. Kalau masih dan belum ngantuk ya tetap buka. Waktu kami ke tempat mie ayam itu pun, bapak tukang mie ayamnya sedang asik bermain hanphone. Memang asik sih punya usaha tapi di rumah sendiri, tutup pun semaunya.


Melihat sepeda, kami bersyukur tidak terjadi apa-apa. Hanya saja yang satu remnya sudah tidak berfungsi. Untung saja tidak terjadi bocor pada ban ataupun rusak dibagian yang lainnya. Mengingat bengkel yang susah dicari pada saat malam hari.


Awalnya sih pesan mie ayam saja. Tapi ketika tukang mie ayamnya menawarkan kami mau dikasih bakso atau tidak. Kami mengiyakannya. Karena sudah laper banget, jadi apa aja dah, pake bakso oke, biar makin kenyang.


Muka kami sudah gak karuan, kucelnya nambah, lapernya luar biasa. Senyum dalam pose pun terpaksa agar kalian senang melihat kami  makan..haha. Endro memesan es jeruk sedangkan aku memesan air es. Apapun itu yang terpenting ada esnya bagiku.


Padahal masi panas, tapi Endro dengan lahapnya menyantap mie. Wajar saja kalau laper, badan lemas dan serasa tak berdaya. Pengennya makan terus tidur. Tapi untuk bisa tidur kami harus melewati puluhan KM lagi.


Aku sendiri gak bisa seperti Endro. Gak kuat nahan panasnya mie di lidah. Sabar aja deh, daripada sakit lidahnya.


Setelah selesai makan mie ayam kami melanjutkan perjalanan pulang dengan melewati 21 KM perjalanan. Tak terasa setelah tidur di pom bensis tadi kami jadi lebih ringan untuk mengayuhkan sepeda. Dengan jarak yang cukup jauh, kami hanya istirahat 2 kali. Terakhir isitrahat di pasar seni gabusan. Disitu kami tidur karena capek banget.


Setelah istirahat yang cukup, kami lanjut lagi biar cepat sampai kost. Pengen cepet istirahat ketemu kasur.

Sesampainya di kost kami hari Rabu, pukul 01.30. Kalian bisa bayangkan dari pukul 16.00 dari pantai Ngunggah hingga sampai ke kost pukul 01.30.

Jangan heran kalau fotonya banyak. Yang ada di blog ini belum seberapa. karenaya jumlah seluruhnya ada 300.an foto. Itu saja belum termasuk video selama dipantai.

Aku salut kepada mereka yang sudah sampai duluan ke pantai Ngunggah dengan bersepeda. Kalau kamu kapan mau gowes ke pantai Ngunggah ini ?

Berangkat Selasa, pukul 06.30 pagi, sampai ke kost Rabu, pukul 01.30 pagi


Rincian pengeluaran selama bersepeda ke pantai Ngunggah:

YANG DIBELI HARGA
1. Minuman, Roti dan AgarRp.15.000,-
2. Makan di AngkringanRp.16.000,-
3. Beli Aqua + 2 Aqua gelasRp.7.000,-
4. Beli es di Angkringan, Ceker + SayapRp.16.500,-
5. 2 Minuman Dingin + CilokRp.13.000,-
6. Mie Ayam Bakso Plus MinumRp.29.000,-
JUMLAH Rp.96.500,-

Jumlah sebanyak ini tidak hanya aku saja, tapi berdua dengan Endro. Jadi setiap membeli minum ataupun makan kami beli dua porsi. Tapi semua jumlah pengeluaran selama kami gowes jangan dijadikan patokan. Karena semua pengeluaran tergantung setiap orangnya. Bisa saja hanya main di malioboro menghabiskan uang ratusan ribu. Sekali lagi kembali lagi sama orangnya dan apa yang dibelinya.

Kami berharap dapat ada kesempatan lagi untuk menjelajahi pantai-pantai yang asri lainnya. Dan tentunya penuh tantangan. Yuk berikan komentar kalian ?

Sahabatmu,
ANDI NUGRAHA

100 komentar

  1. Kalo gue mah mending naek motor lah .. Itu sampe dua hari gitu dr brgkt trs pulang ? pasti capek bgt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. naek motor juga susah bro, tapi kalau naek sepeda jadi tahu perjuangan dan kesabarannya seperti kami..

      Hapus
  2. Mending tidur lah dari pada gitu.. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. tidur sambil mimpi aja mas, mimpi ke pantai Ngunggah sekalian. wkwk
      Jadi kan gk capek.. :D

      Hapus
  3. ternyata gk sia2 ya perjuanganya, indah pantainya dan aku baru mendengar nama pantai itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia pantai yang terdengar asing namanya memang banyak di Gunung Kidul. Perjuangan tidak membohongi, alhasil terbayar lah dengan keindahannya.. hee

      Hapus
  4. Mie ayam baksonya JOSS :v
    Pengeluarannya juga JOSS :v
    Tetap semangat gowes bang :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sepertinya mas Umar ini lavar ya.. :D
      Jeli sekali sama makanannya.. padahal kan banyak tuh makanan yang aku bel. hee

      Sebenarnya semua jumlah pengeluaran selama kami gowes jangan dijadikan patokan. Karena semua pengeluaran tergantung setiap orangnya.

      Hayo gowes bareng mas..

      Hapus
  5. Naekk sepeda ya...???

    Kayaknya gue butuh Go-Jek dah...

    Gue udah follow juga ya Blognya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke, thank ya..

      Iya naik sepeda, jadi terasa perjuangannya...
      kira2 berapa duit tuh kalau naik Go-Jek.. mau kah ngaterinnya si abangnya :D

      Hapus
  6. Kasihan Eni ilang:(

    Itu mau ke pantai Ngunggah ternyata perjuangannya cukup berat ya, harus melewati tanjakan, lembah jurang dll hahahah. Sampe udah beberapa kali nyerah. Tapi perjalanannya yang panjang bener-bener gak sia-sia, pantai ngunggah-nya indah, dari foto aja keliatan bagus banget, masih alami dan bener-bener asri. Omaygad!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itu si Eni hilang :( padahal aku dapetinnya juga susah.. suka gak tahan kalau lagi jalan atau naik motor lihat orang nyepeda, rasanya ingin sepedahan..

      Semoga cepat dapet pengganti si Eni nya. :)

      Tapi untungnya punya teman yang baik, yg mau minjemin. hee

      namanya ngunggah, sama seperti jalannya nggunggah, #Ehh munggah (naik) maksudnya :D

      Hapus
  7. gokil om perjalanannya. Mana gowes pula. pasti pas sampai di tempat tujuan apalagi ini tujuannya pantai, capeknya langsung hilang karena puas :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bang, serasa capeknya langsung hilang gitu.. sempat juga tidur disana.. Adem pula sembari dengerin suara ombak :D

      Hapus
  8. Ampun deh mas, lu niat amat mau liat pantai jauh gitu genjot sepeda?

    Naik motor napah, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau naek motor gk ada perjuangannya mas.. Kalau naek sepeda justru ada tantangannya..

      Awalnya ku kira tak sejauh itu, Ehh buset jauh juga. Tapi jadi tahu dan terbayar lah sama keindahannya :)

      Hapus
  9. Lumayan keren juga nih destinasi tempatnya. Dilihat dari view, layak dicoba. Tapi mahal banget itu harga makanannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu setiap beli makanan 2 porsi bang, karena kami berdua.. kalau buat sendiri pasti gk segitu harganya..

      Lebih murah lagi kalaw bawa bekal bang.. :)

      Hapus
  10. Benar2 petualangan sejati... banyak makannya dan banyak tidurannya... hahahaa...

    Itu ngetrip make sepeda bisa siang malam??? ruuuaarr biasa..

    oh ya, baru denger nama pantainya saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya petualangan mas Dar,maklum sebelum berangkat kami tidak makan, malam juga sama.. hee

      Itu ngetrip paling lama, sampe berangkat Selasa, pulang hari Rabu :)

      Na sekarang jadi tahu kan sama Pantai Ngunggahnya :)

      Hapus
  11. Hhahahaha, seru banget kan kalau sepedaan. Aku malah kangen sama tanjakan di Siluk, jadi pengen ngulang tanjakan sana lagi :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mas Nasirullah malah sudah duluan kesana ya ?

      Benar seru bangen bang.. haha.. sampe kangen gitu,, apalagi habis tanjakan, ketemu turunan.. wuiiihhh... :D

      Hapus
  12. wah asyik ya gowes sepeda ke Pantai ngunggah itu. sensasinya jd berasa banget kesana, 4 jam? super sekali. mantaaabb travelingnya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mba jadi berapa perjuangannya.. itu lebih mba, untuk berangkatnya aja 8 jam, dan pulangnya lebih dari kami memilih jalan, soalnya rem sepedanya blong.. :)

      Hapus
  13. Halo Mas Andi, sebelumnya salam kenal ya.
    Sepanjang baca postingan ini, aku ikut merasakannya juga. Hampir 1 hari penuh di jalanan... Mungkin kalau aku ikut, kayaknya udah minta digendong :(
    Nama pantainya baru aku denger, dan ternyata emang belum ramai dikalangan wisata ya. Tapi aku suka!!! Tapi banyak lika-liku jalan. Pengen ke sana... Semoga kesampaian.
    Aku sih nggak kebayang pas balik ke kosannya. Malem-malem di jalanan terus fasilitas penerangan belum memadai... Di sekitaran hutan lagi. Sampai kosan dini hari. Salut!
    Pulang-pulang badan pegel nggak, Mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo juga Mba Riska, salam kenal juga ya :)

      Ikut merasakan capek ya mba,, hehe.. Wah kalau Mba Riska miinta gendong, siapa ya yang mau gendong coba.. hehe :D

      aamiin, semoga kesampaian ya Mba,, memang jalannya lika liku, plus naik lagi, wajar naik namanya juga ke Gunung Kidul.. hehe..

      Nah itu dia mba, mana kaki sampe kram. Awalnya aku kira tidak sampe malam gitu, tapi itulah perjuangan dan aku jadi tahu .. hehe

      Bukan pegal lagi mba, tapi puegalll :D
      Teman saya malah sampe memar itu kakinya, soalnya nuntun sepeda hampir 2 jam.an di jalanan turun.. :)

      Tapi itu semua membuatku senang .. :)

      Hapus
  14. Wah edan, itu gowes sampe lama gitu, jadi tidur dimana aja ya mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itulah mas, karena capek jadi tidurnya dimana saja, asalkan bisa membuat kami nyaman dan nyenyak.. hehe

      Hapus
  15. Gilakk , blog kamu rapi banget hehhe, jdi betah buka dari tab
    Tapi seremnya pas rem blong tu,
    Telor asinnya sa kali minta satu hehheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mkasih mba :)

      Nah itu dia Mba, makannya pas pulang kami memilih untuk jalan aja, agar aman.. heee

      Boleh mba, 5.000 tapi ya.. hehe

      Hapus
  16. Wah. kamu sering dolan sama mas mawi ya ternyata. kok makin banyak aja ya wisata pantai di gunkid. aku belum pernah k sini

    Hanif insanwisata.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum pernah malah mas, cuma blog mas mawi itu yg aku jadikan referensi kalau mau cari tmpat2 maen.. hee
      Pgen kapan2 bisa maen bareng mas Mawi..

      Masih banyak lagi yg belum di kunjungi di Gunung Kidul mas..

      Salam kenal ya :)

      Hapus
  17. wow.. sepedahan doang bisa ke sana? hobi kamu jadi inget sama orang indonesia yang menjelajah dunia pake sepeda, kayaknya bisa tuh kamu juga.
    kok aku g tau pantai ini ya? pantai baru kah?
    kalau yang kamu sebutin kayak samas, goa cemara, dsb tadi aku tahu dan udah pernah kesana. tapi pantai ngunggah, hm.. baru kali ini aku dengar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, ini juga jarang2 karena belum menemukan pengganti si Eni. Kalau sudah ada mungkin ada lebih rutin sepedahan.. :)

      Wah bisa jadi mba.. tapi untuk keliling dunia pake sepeda, harus dipikirkan lagi.. hehe

      Baru atau tidaknya aku kurang tahu, yg pasti di Gunung Kidul sendiri banyak sekali pantai2 yang masih asri dan belum banyak orang yang tahu..

      Oh gitu, kapan mba ke pantai samas, goa cemara sdb ?

      Hapus
  18. Waduh greget banget mas, ane ngebayangin sambil baca ini malah sudah capek hahaha...tapi top lah... Apalagi pemandangannya hehe. Ehh cerita yg remnya blong serem banget hiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cape yang gowesnya Mas.. Hehe..

      Iya jadi gak sia2 perjuangan untuk mendapatkan pemandangan yang indah :)

      Nah itu dia mas, untung saja aku bisa mengendalikannya.. Kalau tidak aku udh jatuh tuh.. 😀

      Hapus
  19. Yang dibeli itu makanan semua ya? Hahaha, lebih enak bawa sendiri makanannya. Lebih ngirit. Pemandangannya cantik sih. Keren juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya rob, biasanya aku membawa bekal terus, tapi kali ini gk bawa :D

      Secantik perjuangannya rob .. hehe

      Hapus
  20. Ngeri perjuangannya bro, tapi terbayar lah sama pemandangannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itu dia, meskipun lelah tapi aku merasa puas mas :)

      Hapus
  21. WAAAAKZ! Ediyan nyepeda ke Pantai Ngunggah! :D

    Padahal di artikel blog udah aku kasih peringatan supaya jangan ditiru, wkwkwkw...

    Lha piye? Masih belum kapok nyepeda ke Gunung Kidul? :D

    Kalau masih penasaran cobain deh nyepeda ke Laut Bekah. Cuma "tetangganya" Pantai Ngunggah kok. Cuma jalan ke sananya lebih menguji kesabaran, wkwkwkw. :D

    Tapi ya aku salut untuk orang-orang macam kalian yang sudah berani nyepeda ke pantai di Gunung Kidul macam ini. :D

    Alhamdulillah juga, 2 tahun sudah lewat dan belum ada orang kaya kurang kerjaan yang bangun resor di Pantai Ngunggah. Tetaplah jadi pantai yang mengundang pensaran para pesepeda Jogja! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ini yang punya mblusuk baru kelihatan. :D
      Sebelumnya salam kenal ya mas Mawi, siapa tahu bisa gowes bareng.. hehe

      Aku sudah terbawa aliran gak ada kerjaan, udah kebusuk, ehh jadi terbawa :D

      Kapan-kapan deh, aku cobain lagi mas, soalnya aku belum menemukan pengganti si Eni..
      Kalau sudah kan, jadi lebih bebas bisa kapan saja dan kemana saja gowesnya :D

      Dengar jalannya lebih menguji seperti jadi penasaran, meskipun sudah tahu bakal pegal-pegal, tapi terbayar kalau sudah sampai sana .. hhee.

      Karena kurang kerjaan, makannya kami mencari keindahan dengan cara perjuangan. Berjuang untuk kesananya.. hhe

      Hapus
  22. Waaw sepertinya ini kunjungan pertama ane disini gan.
    Amazing sekali.
    Seneng rasanya silaturahmi ke Blogger Travel (eh iya ga sih?)

    btw, kita banyak kesamaan loh gan,
    ane kalo jalan-jalan lebih suka naek sepeda.
    sayanganya ane ga pernah naik sepeda kepantai, karna lokasi pantai dari kost ane jauhnya Subhanallah gan.

    Ini cerita agan selama sehari kalo dijadiin Vlog ke youtube bakal rame gan.
    eh ga tau juga deng.

    But so far, ilove your journey sih.
    apalagi dengan biaya yang relative murah gitu.
    mungkin ini salah satu hikmah bersepeda, duit ga abis di ongkos jadinya.
    Hiduup Pesepedaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh kitu, Alhamdulilah.. Salam kenal ya mas Khairul :)

      Hehe.. gak juga kang, cerita ini hanya salah satu dari hobi saya.
      Yang lainnya mah gak tentang travelling juga ko :D

      Oh yah, iya benear mas. Dengan bersepeda kita jadi lebih tahu detailnya jalan untuk menuju ke tempat yang baru kita kunjungi.. :)

      Wah gitu, ini juga pantainya jauh mas, memang ada pantai yang dekat yaitu pantai Parangtritis, kalau ke situ 2 jam an sampai lah.. :)

      Wah iya seru kayaknya, tapi aku kecapean dijalannya, gak sempat video :(

      Iya mas, uang yang aku keluarkan itu untuk berdua. Baru kali ini habis segitu, biasanya kami membawa bekal makanan terus.. :)

      Yeahh,, Hidup Pesepedaa...

      Hapus
  23. Wadaw lengkap sekali kang perjalannya kalau pengalaman saya mah menderita sekali kang yang pertama karena lintasannya jauh dari perkotaan jadi sulit untuk mencari makanan kaya diatas kang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itu perjalanan dari berangkat sampai pulang lagi.. hehe.

      Oh gitu, harusnya kang Nurul membawa bekal makanan saja dari rumah, jadi meskipun tidak ada warung masih bisa tetap makan.. hehe

      Hapus
  24. Serius nih gowes berapa jam? Ya ampun... gila!! Aku aja sering gowes, cuma sejam udah capek. Apalagi ini? Aargh... tidak, terima kasih!!

    Duh kakak, keringat-keringat kamu bagaikan bermandikan air.

    Tapi, keren banget bisa gowes segitu lamanya.

    Semangat kakak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serius mba.. Berangkat hari Selasa, pukul 06.30 pagi, sampai ke pantai pukul 13.30.. Kemudian pulang dari pantai pukul 16.00 dan sampai ke kost hari Rabu, pukul 01.30 pagi...

      Itu perjuangan untuk mendapatkan keindahan seperti pantai Ngunggah .. hehe

      Iya tuh keringetnya sudah kaya mandi.. haha

      Keren juga perjalannya mba . hehe

      Semangat juga buat Einid Shady, semoga saja bisa gowes seperti itu . hehe

      Hapus
  25. Pantainya cantik juga. Btw, itu pantainya pantai pasir apa lumpur ya?

    BalasHapus
  26. Iya cantik.. :D
    Pantainya pasir mas,,

    BalasHapus
  27. Memang keren nih perjuangannya.. Gak nyesel kan bisa liat pantai yg indah seperti itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu, perjuangannya berbuah manis Mas.. hee

      Hapus
  28. Banyak yang masih asri ya kalau di gunung kidul pantainya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, selain asri banyak orang yang belum tahu juga lho.. hehe

      Hapus
  29. Kalau mau gowes sepeda jadi jangan sampai kurang tidur malemnya ya mas, biar nggak kecapean,,, biar jadi nggak bikin orang yang memandang muka kelelahannya jadinya ketawa (hehehe ini becanda mas)...

    Bagi yang hobi gowes sepeda, pasti menyenangkan menelusuri pantai ngunggah dengan gowes sepeda, walaupun pasti capek tuh ya.... hehehehehehehehehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. wah masnya perhatian sekalih :D
      haha.. muka lelah kami membuat mas Diar ketawa kah.. :D

      Capek pasti mas, bahkan sampai putus asa, tapi capeknya terbayar dengan indahnya pantai Ngunggah..

      Hapus
  30. saya kabita ku cilokna. heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mangga kang di candak we,, hehe
      Beli 2rb juga udh banyak kang. hee

      Hapus
  31. Perjalanan yang bekesan apalagi dengan sepeda dan jarak jauh lagi. Jujur sangat tepukau dengan petualangan mas. Intinya mas orangnya tidak mudah putus asa dan mau beusaha keras.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak hanya menggapai cita2 saja yang perlu perjuangan, petualangan pun demikian.. :)

      Terimakasih Pa Adam :)

      Hapus
  32. Udah lama gak maen sepeda. Dulu gue termasuk sering maen sepeda. Sekarang udah nggak. Udah gak punya juga sepeda. Hehe

    Kayaknya seru deh maen sepedahan. Walaupun ya gitu, pasti capek. Tapi yang namanya hobi ya pasti seru. :))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh yah, kemanain sepedanya bang ?

      gue juga belum nemuin pengganti si Eni.. Tapi Alhamdulilah banyak teman2 gue yang baik yang mau minjemin sepeda :)

      Bukan seru lagi, capek dan lelahnya terbayang ketika menemukan tempat yang indah seperti pantai Ngunggah ini :)

      Hapus
  33. Pejuangan gowes dalam jangka waktu yang sangat lama, luarbiasa sekali.. Nanti bisa dicoba tuh mudik ke Ciamis gowes sepeda hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe. bisa dicoba tuh. :D
      tapi sepertinya istirahatnya akan lebih lama.. hehe

      Hapus
  34. Eike paling malas liat postingan jalan2 begini wkwkwk. . Irik. . Tapi bileh deh sekali2 nyobain. . Cuma kalau dari bsd ke serang wkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. jangan males dong mba.. nanti gak diajak jalan2 lagi sama mamah tuh.. :P

      Hapus
  35. Sumpah! Lengkap banget pengalamannya...!! Aku baca sambil ngebayangin capek banget kalo naik gunung, jalan kaki, belum lagi rim blong ya Alloh..

    Tapi pantainya bagus banget! Keren. Sepi lagi dan pasti belum banyak sampah.

    Itu bunganya bau. Jadi aku bilangnya bunga tai ayam :D

    Sumpah! Capek juga ngebayanginnya... jadi? Nyesel gak ke pantai bersepeda?? :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang gowesnya juga capek mba Arum.. hehe
      nah itu dia pas rimnya blog, kami memilih untuk jalan pulangnya, terutama di setiap turunan.. Karena malam banyak kendaraan takutnya nabrak tak bisa mengendalikan ...

      Iya pantainya bagus dan masih asri lagi.. Gak nyesel, malah seneng, jadi ada perjuangannya untuk melihat pantai yang asri nan indah itu.. hehe

      Masa sih bau mba, aku malah gk mencium baunya kemarin.. hehe

      Rencana kalau sudah ada pengganti si Eni, bakal lebih sering lagi gowes nih, sementara pake sepeda temen dlu selagi tdk dipake. :)

      Hapus
  36. asyik banget kang trek nggowesnya, destinasinya juga menarik, blom pernah nggowes jauh2

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe,, iya nih kang.. bisa dicoba untuk gowes jauh kang.. :)

      Hapus
  37. Sehat nih gowesan jauh begitu ^_^

    Semoga makin konsisten sepedaannya supaya banyak yang terinspirasi untuk jaga badan dengan olahraga.

    Jadikan olahraga budaya yang positif! ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, Alhamdulilah :)

      In shaa Allah mba, nanti kalau sudah ada pengganti si Eni, mudah2an lebih konsisten lagi berolahraga dengan cara bersepeda .. :)

      Hapus
  38. Bhadalah aku baru denger ini Pantai Ngunggah, padahal aku wong Wonosari. Tapi Wonosari-Panggang sudah kayak Wonosari-Jogja ding hahaha.. btw, itu tiduran di deket rumput gajah (kalanjana) apa gak gatel? Wkwkwkwkwk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa sih mas Tom baru dengar.. hehe
      aku kesitu juga tanya2 mas, soalnya pas mau tanya si mbah google maps, sinyalnya kurang mendkung, mungkin karena kartuku juga.. hehe

      Alhamdulilah mas tidak apa2, dan sampai kost pun hanya lelah dan capek yang dirasa tanpa galta2.. Dan itu wajar :)

      Kalau orang Wonosari berarti sudah menjelajah ke pantai mana aja nih mas Tom ?

      Hapus
  39. Perjalanan dengan naik sepeda yang mantaps itu, Mas. Saya belum pernah naik sepeda ke pantai. Paling jauh saya bersepeda ke daerah Cangkringan dan sekitarnya. Sekali lagi, mantaps... Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih pa Akhmas sudah mampir :)

      Bapa suka gowes juga ya, bersepeda di Yogyakarta itu menyenangkan. Saya jarang juga kalau setiap bersepeda dengan jarak yang jauh. Tapi kalau ada waktu luang biasanya nyari2 tempat yang masih asri seperti pantai. Selain bisa berpetualang, bisa menikmati perjuangannya juga untuk mencapai tempat yang dituju.. hehe

      Hapus
  40. Ya ampun...pagi-pagi subuh begini liat cilok..... langsung ngiler. Tanggung jawab!! Beliin cilok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapp.. Mau sedikit atau banyak saosnya kak ? :D

      Hapus
  41. Ikutan menggos-menggos pas baca part nuntun sepeda di tanjakan.. emang ya kalo udah hobi, apa pun dilakuin, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. Makasih ya mba Meriskan sudah mau mampir dan baca :)
      Iya kalau hobi mah apa aja dilakuin.. hehe

      Hapus
  42. Mantab bang , apalaigi bersepeda dengan Speda kesanyangan . pasti tambah asik jalan-jalanya
    OBAT BATUK ANAK HERBAL

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener tuh, kalau sudah ada pengganti si Eni pasti akan lebih asik lagi bersepedanya.. :)

      Hapus
  43. wiihh seru juga, jadi pengen berpetualang naik sepeda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru plus seneng kang.. hehe
      Hayu atuh berpetualang :)

      Hapus
  44. Asyik tuh mas bisa gowes kepantai ada acara makan makannya lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik dan seru mas, serasa ada perjuangannya untuk melihat pantai :)

      Hapus
  45. Gue mah ampun kalau suruh gowes sejauh gitu bang.. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bukan hobi memang susah sih bang.. Kalaupun mau mencoba, dipikirkan lagi ya... hehe

      Karena benar kata mas Mawi, yang gowes ke gunung kidul itu orang2 gak ada kerjaan.. haha

      Hapus
  46. Asik tuh kayaknya... sampe dua hari gitu ya.. skalian keliling indo bang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik, senang, bahagia, capek, lelah. Tapi itu semua aku lakukan atas senang, tanpa paksaan, tanpa disuruh pun.. :)

      Dibalik itu semua ada rasa terbayar ketika sampai ke pantainya .. :)

      Hapus
  47. Wah bahaya juga kalau remnya blong.. harus lebih hati* lagi mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari awal memang kami tidak tahu akan terjadi seperti itu, tapi Alhamdulilah sampai kost dengan selamat, hanya saja capek dan lelah, tapi itu wajar :)

      Hapus
  48. MasyaAllah.... Mantap mas wijna virus wkwkwk

    BalasHapus
  49. waw.. mantep,,
    g kebayang naik sepeda rasanya naik motor aja rasanya udah pegel-pegel naik kepantai ngunggah..salam kenal juga mas andi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe..biar terasa perjuangannya mas alan 😀

      Hapus
  50. Heloooooo, Jang Andi... sae? Sehat? Meuni hebring sasapedahan 7 jam 1 menit eta mah tiasa pingsan hihihi...Urang Cimahi nya? Abdi ti Bandung. Ameh kuat betis na hehe...tos gowes langsung renang di pantai mah ngeunah pisan tiis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hello juga, Teh..
      Alhamdulilah sehat luar biasa..he

      Ciamis, Teh, sanes Cimahi. Lepat maca eta.. :D
      Tos gowes langsung istirahat, Teh..

      Hapus

Terima kasih sudah membaca diary Andi Nugraha kali ini. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya. Komentar dari kalian merupakan sebuah apresiasi besar untuk penulis.