Featured Post

Recommended

Menelusuri Pantai Ngunggah dengan Sepeda

ANDINUGRAHA   | Hayo kapan kalian terakhir gowes? Semenjak punya sepeda pertama di Jogja, aku sering banget bersepeda keliling Yogyakarta. B...

Ajak Fijo ke Wanadesa & Telaga Desa POTORONO

Ajak Fijo ke Wanadesa & Telaga Desa POTORONO

Wanadesa & Telaga Desa POTORONO

ANDINUGRAHA | Dear diary, gimana nih kegiatan kalian selama #DiRumahAja ? Tetap produktif kan? Aku sendiri kangen banget sepedahan pagi bareng Fijo. Di diary kali ini aku bakal cerita soal sepedahan pagi, udah lama sih. Tapi gak apa lah. Ikutin andi yuk.

Jum'at pagi itu pemandangannya begitu indah dan cerah, setelah subuhan seperti biasa aku manjaain si Fijo. Bedanya pagi itu aku gak sendirian. Karena beberapa orang dari grup Darojah Gowes Comunity ada yang sama luang waktunya.

Semua orang yang di grup rata-rata pengusaha jadi bisanya dihari Jum'at. Weekend mungkin lebih buat kelurga, bagi yang udah berkeluarga tapi lho ya..ehehe

Oh iya, pagi itu aku ditemani mas Hendri dan Pak Edi. Meskipun bertiga setidaknya suasana gowesku gak sendiri. Dihari itu kali pertama aku bertemu secara langsung dengan pa Edi. Biasanya cuma chat di grup aja.

Sebenarnya teman-teman di grup banyak yang pengen ikut gowes juga. Tapi waktunya belum ada yang cocok, selain itu ada yang jaraknya jauh juga sih. Tapi gak apa yang jelas gowes pagi itu aku sangat senang ada temannya.

Hayo, kapan terakhir kalian gowes?

Sepulang dari masjid aku langsung mandi. Awalnya mas Hendri memintaku untuk jangan mandi. Tapi aku merasa gak nyaman kalau gak mandi, ya walaupun gowesnya bakal berkeringat tapi kalau mandi dulu rasanya badan lebih seger. Cobain deh :)

Pagi itu aku menghampiri mas Hendri di outlet bebek buma 1 tempat dia bermalam. Buma ini sebuah tempat makan yang khas dengan bumbu Madura. Kalau kalian pernah baca #DiaryKuliner disini pasti tahu.

Cukup keringetan juga untuk sampai di tempat mas Hendri menunggu. Kurang lebih aku menghabiskan waktu 15-20 menitan. Kalau lebih santai mungkin bisa aja lebih dari 30 menitan.

Setelah bertemu mas Hendri barulah kami menghampiri pa Edi di Kota Gede. Meskipun lokasi gowesnya udah di share di grup sebelumnya. Tetap aku bingung karena belum pernah kemana.

Pagi itu Pa Edi memandu untuk sampai ke tempat tujuan. Seperti judul diary andi kali ini. Aku diajak gowes ke Wanadesa & Tegala Desa Potorono.

Padahal dulunya sebelum dibangun embung, desa Potorono sering mengalami sumur kering saat musim kemarau. Nah dari situlah ada inisiatif desa Potorono untuk membangun sebuah embung yang berfungsi untuk menampung air hujan.

Selain itu, embung Potorono ini menjadi wadah rekreasi alternatif bagi pembangunan masyarakat sekitarnya lho. Keren kan!

Disaat mengeruk tanah pembuatan embung, munculah mata air yang kemudian mengisi embung dan kini sumur di Desa Potorono tidak mengalami kekeringan lagi. Kalau dari artikel yang pernah aku baca. Embung Potorono dikelola oleh Pokdarwis secara swadaya.

Terdapat juga pengurus harian yang meliputi aspek berisi ketua, sekretaris, bendahara, dan ke beberapa divisi lain seperti keamanan, usaha, sosial, publikasi, dan pemasaran.


Pengelolaan sehari-hari seperti pengelolaan pedagang sekitar dan uang parkir. Kebetulan di tempat ini juga terdapat beberapa kotak parkir yang diletakkan di sekitar embung.

Tarif parkir pun seikhlasnya dan belum ada biaya retribusi masuk ke Embung Potorono. Kurang tau juga sih kalau sekarang. Pagi itu tempatnya terlihat sepi, mungkin karena kami pagi datangnya.

Yang jelas di tempat ini terdapat banyak ikan yang menyambut kami datang. Meskipun sepi tapi tetep senang. Bener-bener suasana gowes yang berbeda. Biasanya lokasi yang paling sering aku datangi sih bagian Jogja kota. Seperti alun-alun, Malioboro, Nol KM Jogja sampai ke Tugu Jogja.

Uang dari pengunjung yang didapat dialokasikan untuk dana kebersihan dan listrik. Pun juga untuk dana pengembangan wisata di Embung Potorono seperti penambahan fasilitas tempat sampah, lampu taman, dan gazebo.

Keren gak tuh, makannya kita kalau berkunjung ke tempat wisata, terlebih seperti yang aku kunjungi ini, baiknya memang jaga kebersihan. Kalau bersih kan kita juga yang senang.


Di tempat ini juga terdapat sebuah kedai yang namanya cukup unik menurutku. Kedai Modal Rabi 77. Unik ya..hehe.. Mungkin memang dengan modal rabi kedai itu tercipta. Tapi pagi itu belum buka sih, mungkin karena kami terlalu pagi juga..ehehe



Terdapat juga perahu yang sederhana nan unik menurutku. Namun pagi itu belum dioprasikan. Mungkin juga masih pagi dan belum banyak pengunjung yang datang.


Pagi itu bener-bener masih pagi, coba deh lihat fotoku yang dibawah ini. Masih sepi banget. Setelah menyimpan sepeda, kami lanjutkan untuk jalan mengelilingi embung Potorono sambil ngobrol dan jalan kaki. Itung-itung dapat plusnya kan, sepedahan dan lari pagi. Eh, jalan-jalan pagi..ehehe..


Melihat banyaknya ikan yang menyambut kami, aku jadi teringat kolam ikan depan rumahku dulu. Sayang saat ini sudah tidak ada karena rusak. Asiknya di tempat ini selain bisa melihat ikan, kita juga bisa ngasih makan ikan lho.

Waktu itu aku ngasih daun apa gitu, dikasih pa Edi. Aku kira si ikan bakalan gak suka, eh ternyata begitu aku lempar potongan dedaunan, banyak berebut.


Di antara kami cuma aku yang berbeda sepedanya. Aku menggunakan fixie. Untung aman ban kecil si fijo melewati jalanan bebatuan. Fixie sendiri memang cocoknya buat dikota sih, jalan aspal. Kalau diajak ke jalanan bebatuan cocoknya sepeda mtb.


Sebelum pulang kami sempatkan foto selfie dulu, gak sadar dari awal datang seneng banget mainan sama ikan dan foto-foto tempat sekitar saja. Foto selfie ini kami pamerkan di grup biar yang bisa ikut sepedahan iri..ehehe..


Setelah dari embung, aku kira bakal terus pulang. Eh ternyata pa Edi mengajak kami ke suatu tempat yang cukup bagus. RTH Potorono namanya. Waktu aku lihat tempat itu bingung juga apa ya singkatan dari RTH..he

Ada yang tau singkatannya apa?

Nah ditempat ini tuh seperti taman gitu, baru aja sampai pa Edi dan mas Hendri minta foto langsung, oke siap. Kami gantian fotonya.


Selalu menyempatkan foto si fijo disaat sendirian. Cocok aja menurutku backgroundnya warna warni, keren ya perpaduan warna tempat dan si fijo..hehe


Di tempat ini juga terdapat sebuah gazebo lho. Bisa kita gunakan untuk istirahat atau bersantai bareng teman dan keluarga. Tempatnya juga bagus terlebih disaat pagi seperti kami mengunjunginya.


Uniknya lagi, di tempat ini terdapat papan tulisan yang mengingatkan pengunjung lho. Baca tuh baca. Asiknya memang kalau yang sudah berkeluarga sih, biar gak berpengaruh sama tulisan di papan ini..hehe


Selain itu, ternyata terdapat sebuah kandang kuda juga di tempat ini. Awalnya aku cari-cari pa Edi kemana, taunya sedang selfie di sama kuda. Kebetulan kuda-kuda disini subur-subur, memang terawat banget sih keliatannya.


Aku coba mendekat untuk foto kudanya, ada yang warna coklat dan juga putih. Melihatnya jadi teringat dulu waktu khatam Al-Qur'an ditempat ngajiku, kebetulan naik kuda gitu, dan tau gak kalian? Kuda yang aku tunggangi bersama adek tiba-tiba loncat-loncat karena perutnya terlalu kencang keiket sabuk.

Kaget juga sih, awalnya tenang banget si kuda jalannya. Lah sampai-sampai si pemilik kudanya aja gak megangin.


Kuda disini sepertinya biasa buat narik dokar. Soalnya terdapat gerobak delman di samping kuda. Kebetulan pagi itu belum keluar alias belum beroprasi. Entah kenapa kalau naik kuda suka kepikiran gak tega gitu. Kasihan ngerasanya..ehehe..



Setelah puas foto dan bermain bareng kuda. Kami lanjut pulang sekaligus cari sarapan soto. Kebetulan pagi itu pa Edi mengajak kami untuk mampir ke rumahnya, dan tau gak sih. Kami tetep makan soto memang bertiga malah sama pa Edi. Dan ternyata itu soto punya pa Edi lho ternyata.

Sini-sini, aku kasih lihat foto sotonya :D



Jangan bilang pengen lho ya..haha

Gak tau soto apa, yang jelas ini rasanya enak. Dan tentu habis satu porsi dong..ehehe..


Setelah makan soto, kami diajak ke belakang untuk melihat tanaman dan hewan peliharaannya pa Edi. Beuh banyak banget lho, ada merpati, burung yang aku gak tau namanya..hehe.. Ada juga tanaman lho. Keren memang, apalagi rajin merawatnya.


Ada kelinci juga, dulu aku sempat punya. Dan katanya daging kelinci itu enak ya? Bener gak sih, aku sendiri belum pernah merasakannya.


Begitu aku foto kedua burung ini, si burung tenang banget, seolah tau kalau mau aku foto. Warnanya bagus ya, cerah gitu. Aku sendiri belum berani kalau untuk memelihara burung seperti itu, bukan kenapa sih. Takutnya gak terawat aja. Kan kasihan!


Demikian keseruan gowes pagiku ke embung potorono. Diary kali ini cukup sampai disini ya. Tunggu diary terbaru andi berikutnya ya.
Jauh-Jauh dari Semarang ke Jogja hanya untuk ambil Merchandise @diarymahasiswa

Jauh-Jauh dari Semarang ke Jogja hanya untuk ambil Merchandise @diarymahasiswa


ANDINUGRAHA | Dear diary, selapas Maghrib hari itu rasanya malam semakin dingin. Dan benar, air perlahan mulai berjatuhan dari langit ke bumi. Secara reflek bibirku mengucap Allahumma shoyyiban nafi'an. Ya, itulah doa ketika turun hujan.

Malam itu aku rasa banyak jomblo yang berdoa untuk turun hujan. Habisnya pas malam Minggu aja gitu..haha.. Aku sendiri tidur lebih awal. Setelah isya langsung mengucap doa tidur dan istirahat dengan nyenyak.

Kalau hujan memang enaknya makan atau minum yang anget-anget ya. Di Jogja sendiri bisa minum wedang ronde, susu jahe, untuk makannya bisa bakmi, bakso dan bisa juga mie instan. Sebagai anak kost hujan gak hujan makan mie anget tetep enak ya..hehe

Tapi jangan keseringan juga ya, karena gak baik buat kesehatan. Terlebih saat ini virus corona sudah di Indonesia. Semoga gak bertambah, yang terkena segera sembuh dan virus corona segera hilang dari dunia ini. aamiin..

Sebelum lanjut baca diary ini, aku mau ngucapin terima kasih banyak untuk sahabat diary mahasiswa yang sudah follow instagram @diarymahasiswa terhitung sampai diary ini aku publish sudah ada lebih dari 72,4K lebih follower, dan yang gabung grup DIARYMAHASISWA lebih dari 600 orang. 

Semoga sahabat diarymahasiswa terus bertambah dan semoga teman-teman yang tergabung di grup betah untuk terus berbagi dan menginspirasi.

Oh iya, awal tahun 2020 ini aku sering banget bertemu sahabat diary mahasiswa secara langsung dari berbagai kota. Kebetulan mereka datang ke Jogja untuk liburan. Tapi ada satu yang membuatku gak percaya pada waktu itu.

Lah kenapa, Ndi?
Ada salah satu sahabat diary mahasiswa dari Semarang jauh-jauh ke Jogja hanya untuk mengambil merchandisenya @diarymahasiswa. Padahal kan bisa aja aku kirim setelah selesai pengerjaan.

"Gak usah dikirim, aku ambil aja ke Jogja. Biar sekalian bisa silaturahmi." Ucap Ajis melalui pesang singkat pada waktu itu.

Kebetulan yang pesen merchandise ini namanya Ajis. Dia dari Semarang, order 3 pcs kaos. Satu pcs lengan panjang warna putih, satu pcs lengan panjang warna hitam, dan satu lagi kaos lengan pendek warna hitam buat Hamdan, temannya.

Aku penasaran dan kepoin dikit dong soal order kaos panjang panjang 2 pcs, couple lagi...hehe

"Kenapa order 2 pcs couple, Jis?" tanyaku pada saat dia pesen.
"Gak apa-apa, Mas. Yang warna putih bisa buat pacar saya." jawab Ajis dengan senang.

Wah perhatian sekali ya si Ajis ini. Semoga awet deh kaosnya ya.


Seperti diary-diary yang pernah aku tulis sebelumnya, kalau perempuan itu lebih banyak suka warna putih. Sebenarnya sih laki-laki juga bagus-bagus aja pake kaos warna putih, asal bisa jaga kebersihannya tetap bagus kok.

Lanjut ke tidur lelapku di malam Minggu ya :)
Nah ceritanya sebelum subuh aku sudah bangung. Memang sih tanpa adanya bantuan alarm pun aku selalu niat untuk bisa bangun sebelum subuh. Kalaupun terlalu terlelap, alarm beruntun membantuku untuk bangun.

Kebetulan pagi itu Ajis ngasih tau aku via pesan singkat kalau dia sudah di Jogja dari semalam. Karena hujan jadi aku gak keluar sama sekali. Akhirnya kita bertemu pagi hari selepas Subuh.

Waktu itu Ajis ke Jogja ditemani sahabatnya dari Semarang. Gak ada niatan jalan-jalan ataupun ada keperluan lain. Bener-bener dia niat banget ke Jogja cuma untuk mengambil merchandise diary mahasiswa. Pagi itu kami janjian di alun-alun utara Jogja. Di sebuah tempat lesehan sembari menikmati wedang ronde dan jagung manis.

Rasa ademnya pagi sedikit terobati. Kalian pernah nyobain wedang ronde?


Setelah selesai kami pulang masing-masing. Aku bersama Vian yang menemaniku pagi itu sengaja mampir sebentar ke tempat soto langganan untuk sarapan pagi. Soto Cak Kadir namanya. Setelah kenyang aku mengantar Vian pulang.

Disaat perjalanan, kami melewati sebuah jalanan yang cukup sepi lengkap dengan pemandangan pesawahan menawan, duh keren pemandangannya. Di tempat tinggalku selama di Jogja mana ada pesawahan, gak pernah lihat pemandangan hijau seperti itu. Makannya aku sempatkan foto, seperti ini fotonya.


Ada yang naksir sama motor yang aku tunggangi?
Setelah sampai anterin Vian, kebetulan terjadwal aku harus rekaman video untuk channel diarymahasiswa pagi itu. Setelah sarapan kenyang, langsung kerja. Minggu padahal ya, tetap semangat berkarya dong. Jangan banyak rebahannya. Capek!

Videonya bisa kalian tonton dibawah ini ya. Kebetulan di video ini juga aku sedikit ngomongin soal soto langganan dan merchandise. Yang ada waktu silahkan ditonton ya.


Kurang lebih satu mingguan berikutnya Ajis memberi tauku kalau Hamdan yang order kaos itu mau ke Jogja juga. Kebetulan memang dia kerja bagian staf sekolah menengah pertama. Jadi ke Jogja sekalian ikut stady tour.

Aku seneng dong, kalau bisa ketemu semua jadi sekalian bisa silaturahmi. Kebetulan waktu itu Jogja cukup sering hujan, kami ketemuan di sebuah hotel Olympic Jogja, tempatnya gak begitu jauh dari kostku kebetulan.

Ajis dari Semarang, dan Hamdan sendiri dari Ciamis, Jawa Barat. Seneng bisa kopdar sekaligus silaturahmi dengan mereka. Dan yang lebih seneng lagi mereka ini menggunakan kaos merchandise diarymahasiswa.

Seperti ini fotonya. Foto ini aku ambil disaat ada di lorong hotel Olympic Jogja. Terlihat sederhana lorongnya, tapi ini keren buat diambil foto.



Biasanya sih yang mau COD atau ambil secara langsung kaosnya khusus orang-orang yang ada di Jogja. Nah ini Ajis jauh-jauh dari Semarang ke Jogja cuma mau ambil merchandisenya aja. Tapi gak apa sih, kan sekalian jadi bisa silaturahmi dan sharing-sharing walaupun cuma sebentar.

Di pekan yang bersamaan juga, aku kirim-kirim merchandise sesuai pesenan orang. Kebetulan pesenan dari luar Jogja. Jadi aku kirim. Macem-macem sih pesenannya, ada yang putih, hitam, panjang maupun pendek juga ada.

Oh iya, satu kaos yang ada difoto ini beda sendiri, warnanya abu. Dan itu kecil ukurannya, karena untuk anak usia satu tahuanan. Aku seneng sih, setidaknya ada SDM junior..hehe


Pada malam harinya aku dapet notif instagram, ada yang tag foto ke akun @diarymahasiswa di instagram. Mereka sedang jalan-jalan menggunakan kaosnya DIARY MAHASISWA. Kadang ada juga yang langsung kirim via whatsapp.

Beberapa kiriman foto dari sahabat @diarymahasiswa aku upload disini juga ya, biar kalian tahu.



Kalau ada yang tertarik sama merchandise diarymahassiwa bisa langsung cek instagram @diarykaos 

Gak cuma merchandise diarymahasiswa kok, kalian juga bisa custom kaos dengan desain suka-suka semau kalian. Bisa juga pake logo blog kalian sendiri. Keren gak tuh. Sok ah, kepoin aja instagramnya ya.

Demikian diary Andi Nugraha pekan ini ya, aku tunggu coretan kalian di kolom komentar. Sampai bertemu di diary berikutnya.
Jalan-Jalan Bareng Sahabat Diary Mahasiswa (SDM)

Jalan-Jalan Bareng Sahabat Diary Mahasiswa (SDM)


ANDINUGRAHA | Dear diary, hari ini badanku terasa tumbang, untuk beranjak dari tempat tidur pun rasanya enggan. Bukan tak mau, tapi memang terasa berat, masih ada sesosok pusing dan sejenisnya yang masih belum pergi.

Hallo Januari. Ini adalah diary pertamaku di tahun 2019. Tahun dimana deretan mimpiku harus terwujud satu persatu. Begitu juga dengan deretan resolusi sahabat diary mahasiswa bisa tercapai semuanya..aamiin.

Oh, iya, selepas bangun tidur tadi, ya walaupun masih nyantai di atas kasur aku jadi teringat akan sebuah liburan yang ini sangat berkesan. Intinya beda banget lah dari jalan-jalan sebelumnya.

Kalian tahu kenapa?
Aku rasa sudah menebak dari sebuah judul diary ini di atas. Ya, aku bisa jalan-jalan bareng SDM (Sahabat Diary Mahasiswa).

Sebelum lanjut baca diary, kalian perlu tahu bahwa 2018 merupakan tahun dimana hampir setiap bulannya impianku tercapai. Bukan, ini mungkin bukan impian besar yang seperti kalian bayangkan. Tapi kalian tahu itu apa?

Ini soal follower instagram @DiaryMahasiswa terhitung hingga saat ini, dimana jemariku bergoyang menceritakan ini semua berjumlah 34,2K lebih. Alhamdulilah.

Wah berarti Andi banyak fans dong sekarang?

Bukan-bukan, aku lebih suka menyebut mereka SDM. Terlepas mereka suka atau tidak bagiku mereka itu sahabat diary mahasiswa. Mereka berasal dari berbagai daerah, aku tahu waktu menanyakan mereka di instagram dengan pertanyaan seperti ini :

Sahabat Diary Mahasiswa, kalian asalnya dari mana? Tulis di komen ya, siapa tahu suatu saat DM bisa jalan-jalan ke tempat kalian:)

Dan kalian tahu berapa yang komen?
Gak banyak memang, tapi ini berarti banget buatku. Terhitung dengan balasanku hingga saat ini ada 600 komentar lebih. Balasanku paling berapa %, karena mau aku bales semua gak sempat. Sempat pun bakal memakan waktu lama. Karena dari pertama di postnya pertanyaan itu setiap harianya terus bertambah orang yang komen.

Tapi aku membacanya kok, meskipun gak aku balas satu persatu. Aku biasa membalasnya disaat aku luang, santai ataupun sehabis makan.

Oh, iya di tahun 2018 awal kalau kalian tahu follower awal DM itu gak sampai 1000, masih 800-an lebih kalau gak salah, yang like pun masih sedikit. Dari situ aku terus berfikir, memutar otak gimana caranya biar bisa bertambah follower dan postingan-postingannya bermanfaat.

Dan hingga saat ini, setiap bulannya bisa bertambah. Alhamdulilah. Setiap awal bulan aku selalu menuliskan di layar laptop dan kertas, selama bulan ini follower harus bertambah sekian dan sekian.

Gak banyak memang, tapi apa yang aku tuliskan sesuai dengan waktu yang aku luangkan. Setiap hari aku selalu meluangkan waktu untuk Diary Mahasiswa. Menguras waktu memang, bahkan sempat begadang juga. Tapi aku percaya Diary Mahasiswa suatu saat akan besar dan berkembang serta memberikan manfaat. Aamiin.

Dengan bertambahnya sahabat diary mahasiswa di instagram, semakin banyak juga orang yang curhat, komen dan intinya interaksi semakin banyak. Aku sangat seneng, setidaknya konten yang aku upload berdampak buat mereka.

Dan salah satunya dengan sahabat diary mahasiswa dari Jakarta. Rafli namanya. Dia main ke Jogja tepat disaat libur di bulan Desember lalu. Tapi sedari bulan sebelumnya dia sudah kasih tau kalau mau ke Jogja.

Siapa saja yang mau ke Jogja dan berkabar, in shaa Allah aku nemuin dengan catatan aku lagi di Jogja, kedua aku lagi longgar. Pasti aku usahakan, dan pengen juga bisa silaturahmi sama kalian semua. Selain Rafli dari Jakarta. Tepat di akhir tahun 2018 kemarin juga ada sahabat diary mahasiswa yang dari Bogor, Surabaya, Ciamis dan yang liannya yang belum sempet aku temui.

Ya, seperti yang aku bilang tadi, waktunya belum pas, alias aku sedang ada kesibukan dan mereka datang berlibur ke Jogja. Di sisi lain juga Desember merupakan bulan dimana seringnya Jogja di guyur hujan.

Diary kali ini khusus aku cerita waktu jalan-jalan bareng Rafli. Dia ini masih kuliah lho, semester akhir malah. Alias sedang berjuang nyusun skripsi. Berawal kenal di instagram juga waktu dia curhat masalah kuliahnya.

Dia ke Jogja menurutku cukup beruntung karena kebagian tiket kereta api. Wajar sih, karena dia pesen sedari jauh-jauh hari. Gak seperti temanku yang satu lagi. Dia dari Jakarta juga, hanya saja kehabisan tiket karena belinya mendadak. Alhasil pake pesawat. Gak apa memang, tapi kalau bisa hemat kenapa tidak.

Rafli di Jogja juga punya teman yang asalnya dari Riau kalau gak salah. Temannya ini sedang kuliah juga di Jogja. Sempet nemenin jalan-jalan disaat malamnya, hanya saja gak lama. Karena temannya juga sibuk kuliah, skripsi dan juga tugas. Jangan heran kalau begadang udah jadi sahabatnya.

Selain itu, Rafli juga punya daftar list tempat yang ingin di kunjungi. Diantaranya ada 7 tempat.

a. Malioboro
b. Keraton
c. Taman Sari
d. Hutan Pinus Mangunan
e. Candi Prambanan
f. Pantai Parangtritis
g. Bukit Bintang

Awal aku dapet kabar dari Rafli disaat siang, tepat dimana aku sedang depan layar laptop, ada garapan desain. Niatnya sore hari aku mau nemuin tapi gak sempat karena aku malah ketiduran, capek soalnya. Malamnya baru aku ampiri di nol kilo meter Jogja.

Tempat yang aku rasa familiar dan cukup mudah kalau mau ketemu, gak begitu jauh juga dari tempatku. Kebetulan dia sendirian di nol kilo meter Jogja. Bisa kalian banyangkan gimana rasanya gak ada temen meskipun berada di tempat keramaian..he

Di nol kilo meter kami banyak ngobrol banyak, mulai dari tempat ngobrolin Jogja dan Jakarta. Kerjaan, kuliah dan yang lainnya. Sayang, malam itu cuma sampai pukul 23.00 lebih. Karena aku juga mau langsung ke bandara, jempur sahabatku, Maman namanya.

Kalian yang sering baca #DiaryGowesku pasti tahu. Saat ini dia kerja di Jakarta, begitu libur mainnya ke Jogja. Aslinya kangen ingin bersepeda, tapi apalah daya sepedanya dia udah gak ada.

***

Paginya sebelum aku lanjut aktivitas yang sudah terjadwalkan, aku sempatkan jalan-jalan setelah subuh niatnya. Tapi cuaca Jogja pagi itu kurang mendukung, alias mendung dengan iringan rintik air berjatuhan dari langit. Alhasil berangkat sedari pukul 06.00, aku jemput Rafli di tempat dia menginap. Terus lanjut pergi ke hutan pinus.

Sekalian aku kasih info untuk kalian ya. Rafli ini nginep di salah satu tempat nyaman buat tidur ala-ala anak kost. Kenapa aku sebut gitu, karena harganya terjangkau. Ndalem Diajeng nama tempatnya.

Ndalem Diajeng merupakan sebuah Homestay yang berada di Jalan Namburan Lor No 50 Keraton, Yogyakarta. Lokasinya gak begitu jauh ke alun-alun kidul. Asik kan, tinggal jalan udah sampe. 

Soal harga cukup terjangkau juga. Berawal dari cari-cari di internet, akhirnya pilihan Rafli jatuh pada Ndalem Diajeng ini. Harganya ada paketan. Dia milih sekaliagus 2 malam. Dengan harga 150k, sekali lagi ya Rp.150.000,- untuk 2 malam.

Murah kan. Murah lah segitu. Harga promo setiap kamar cukup bervariasi sesuai dengan kualitas hotel bintang 2.

Ndalem Diajeng memiliki sebelas kamar, yang terdiri dari beberapa pilihan yaitu :

a. Tempat Tidur di Kamar Asrama Campuran 4-Tempat Tidur
b. Tempat Tidur di Asrama dengan luas dua belas meter (12 m2)
c. Kamar Deluxe Queen
d. Double dengan luas delapan belas meter (18 m2)
e. Kamar Standard Double dengan Kipas Angin
f. Double dengan luas sepuluh titik lima meter (10.5 m2)
g. Kamar Double dengan Kamar Mandi Bersama
h. Double dengan luas sepuluh titik lima meter (10.5 m2)

Homestay ini bisa dipesan jika berkunjung ke Yogyakarta. Jika sahabat ingin menginap di Ndalem Diajeng, adapun jadwal checkin pada jam 14:00 dan checkout pada jam 11:30. Ndalem Diajeng dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti :

a. Antar-Jemput Bandara
b. Parkir di gedung
c. Wi-Fi
d. Layanan Internet
e. AC
f. Antar-Jemput Bandara (biaya tambahan)
g. Parkir
h. Parkir Gratis
i. Dapur bersama
j. Termasuk Akses Wi-Fi Gratis
k. Penitipan Bagasi
l. Area lounge/TV bersama
m. Layanan kebersihan harian
n. Loker

Gimana asik kan, dapet harga murah tapi fasilitasnya lengkap. Oh, iya harga 150k tadi itu hanya salah satu lho ya. Karena harganya ada beberapa pilihan. Ada yang 70k, 150k, 175k, 200k. Kalau kalian mau pesen tinggal ketik aja di google "homestay ndalem diajeng". Pasti keluar. 

Bisa kalian coba lain kali ya. Terasa kurang kalau gak nunjukin foto di tempat penginapannya kan. Tenang-tenang, aku udah suruh Rafli untuk foto beberapa tempat nginepnya kok. Ini suasana dari depan, tepatnya difoto dari jalan.


Kalau yang ini aku gak tau pasti ruang apa, tapi kalau di lihat-lihat sudah pasti ini ruang tamunya. Tempat yang bisa digunakan untuk bersantai.


Nah ini tempat tidur dimana Rafli menginap. Satu kamar terdapat 2 tempat tidur tingkat. Tapi satu hal yang aku sangat sayangkan setelah mendengar cerita Rafli. Di kamar itu waktu dia menginap di campur. Antara laki-laki dan perempuan. Entah kebetulan karena kamar lain penuh atau memang gak ada peraturannya.

Aku kurang tahu juga, tapi kalau menurutku sih baiknya di pisah. Dalam satu kamar khusus untuk penginapan laki-lakai saja, dan untuk perempuan juga khusus ada.

Gimana menurut kalian?


Kalau foto dibawah ini gak usah ditanya, ini terlihat tempat makan ya. Karena dari mejanya sudah terlihat. Gimana sampe ini, kalian tertarik untuk menginap di tempat ini?


Aku gak khusus mengulas penginapan ini memang. Karena infonya di dapat gak begitu banyak. Cuma sempet googling dan dapet sedikit info dari Rafli saja. Tapi ini penginepan recommend kok, karena jaraknya dekat ke kota juga. Ke alun-alun kidul apalagi.


Cukup ya aku bahas soal penginapan dimana Rafli tidur. Lanjut ke perjalanan hutan pinus. Aku juga penasaran udah ada perubahan apa aja disana. Apakah dari suasananya, icon-icon tempat foto atau yang lainnya.

Lanjut baca diarynya ya :)

Aku sendiri sering sebenarnya main ke hutan pinus, karena sering nganter sahabat diary mahasiswa juga. Mereka yang sengaja ke Jogja terus berkabar.

Sesampainya di hutan pinus ternyata sudah ada perubahan, terutama di tulisan PINUS JOGJA. Beberapa bulan lalu belum ada. Tapi tulisan Jogjanya masih menggunakan font dulu, kalau sekarang kan sudah berubah dan warnanya juga jadi merah.


Aku gak banyak post foto waktu di hutan pinusnya memang, ya karena aku rasa kalian sudah pada tahu lah, seperti apa suasana disana. Jadi aku pilih beberapa foto aja. Setelah puas di hutan pinus, aku mengajak Rafli ke panggung sekolah hutan. Biar sekalian karena jaraknya juga dekat, hanya sebrang jalan.

Nah di panggung sekolah hutan ini belum lama juga digunakan untuk stand up comedy lho. Dengan tema stand up hutan kalau gak salah. Malah teh Ajeng, yang punya ajengveran.com kasih kabar mau nonton stand up nya, tapi gak jadi karena suatu hal.

Pintu masuk panggung sakolahnya gak ada bedanya, tetap seperti awal dimana aku pernah kesana. Kalian pernah ke tempat ini belum?


Masih sepi memang, karena masih pagi juga. Tapi ini bagus, aku sarankan kalau kalian yang mau ke hutan pinus lebih baik sedari pagi. Selain masih sepi, kalian juga bebas bisa foto-foto tanpa ramai pengunjung. Selain itu bisa sekalian explore tempat yang lainnya, karena jaraknya gak begitu jauh.

Di panggung sekolah ini, aku seneng melihat keluarga yang mengajak anaknya main di hutan pinus. Menghirup udara segar dipagi hari dengan suasana hutan yang begitu nyaman. Hayo yang sudah berkeluarga jalan-jalan ke hutan pinus dong :)


Oh, iya ada perubahan juga lho di panggungnya, terlebih di bagian belakang dan bertambah satu tingkat panggungnya juga. Aku tahu karena dalam setahun bisa di bilang sering main ke hutan pinus. Gak cuma hutan pinus tapi tempat wisata yang ada di Mangunan.


Ini tangga yang ada di belakang panggung, dulu mah belum ada, jadi terlihat lebih tertata dan rapih.


Setelah puas dan sebelum pulang kami sempatkan foto terlebih dahulu. Untung ada orang yang baru dateng, jadi bisa minta tolong untuk foto.


Inginnku ajak Rafli jalan-jalan seharin explore di Jogja. Tapi gak bisa karena aku sudah ada jadwal kegiatan yang harus di kerjakan di hari itu juga, begitu juga besoknya.

Daftar list yang mau di datengi selama di Jogja memang belum tercapai semua. Tapi setidaknya bisa menginajakkan kaki di Jogja. Ini luar biasa karena baru pertama buat dia (Rafli).

Termasuk daerah gunung kidul. Aku rasa untuk bisa explore Jogja lebih baik menggunakan motor atau mobil pribadi atau bisa juga sewa mobil. Karena dengan kendaraan umum gak bisa bebas.

Terlebih untuk ke tempat-tempat seperti Mangunan dan Gunung Kidul. Karena gak semua kendaraan umum bisa akses ke tempat tersebut.

Satu pertanyaan dariku untukmu yang sudah baca diary ini.

KAPAN KAMU KE JOGJA?
Fasilitas Sewa Sepeda Gratis di Kawasan Malioboro Yogyakarta

Fasilitas Sewa Sepeda Gratis di Kawasan Malioboro Yogyakarta


ANDINUGRAHA | Selamat pagi, siang, sore atau malam sahabat Diary Mahasisa. Diary kali ini masih tentang sepeda ya. Tapi ini bukan si Eni dan bukan juga soal Fijo. Tapi ini soal sepeda baru yang dapat kalian sewa secara gratis di kawasan Malioboro Yogyakarta.

Penasaran kan?

Lanjut baca diary ini ya.
Oh, iya ini pertama di Indonesia lho. Yogyakarta menghadirkan fasilitas sewa sepeda gratis yang bisa kamu, kita dan siapa pun gunakan untuk keliling Malioboro.

Asik kan?
Asik lah gratis juga.

Tahu sendiri kan kalau kawasan Malioboro sudah menjadi destinasi terkenal bagi pengunjung yang berwisata ke Jogja. Siapa sih yang gak pernah ke Malioboro kalau pergi ke Jogja.

Kamu, kapan terakhir ke Malioboro?

Saat ini Jogja membuat pelancong semakin betah, pasalnya pemerintah Kota Yogyakarta membuat program "Jogja ada Sepeda" yang dinamakan Jogjabike.
Kehadiran Jogjabike ini untuk memfasilitasi para wisatawan yang ingin menikmati kota Yogyakarta yang nyaman dengan cara yang berbeda.

Menariknya lagi program Jogjabike menggunakan produk lokal, mulai dari sepeda, perangkat smartlock hingga aplikasi untuk menyewa Jogjabike semuanya berasal dari Indonesia.

source pict:instagram/jogja.bike

Tahap pertama launching dari Jogjabike diadakan sekitar kawasan Malioboro, namun secara berkala akan ada 1.000 sepeda Jogjabike yang akan tersebar di berbagai fasilitas publik dan destinasi wisata di Yogyakarta.

Jadi, buat kalian yang capek berjalan kaki menyusuri jalan Malioboro bisa menggunakan fasilitas sewa sepeda gratis dari Jogjabike ini. Bisa juga ajak aku lho..he

Awal aku nyobain fasilitas sepeda ini tepat diawal bulan November. Dan sekarang baru bisa diceritakan disini. Karena kesibukan jadi telat. Gak apa-apa ya, yang penting kalian jadi tahu.

Kalian tau kan kalau aku sering sepedahan sedari subuh. Dan pagi itu sengaja gak bawa sepeda. Karena memang mau mencoba fasilitas sepeda gratis dari Jogjabike ini.

Sebelum ke lokasi salter sepeda. Aku seperti biasa nyantai manis dulu di nol kilo meter Jogja. Dan seperti biasa sudah ada wedang ronde yang siap di minum kalau mau. Tapi harus bayar lho ya, namanya orang jualan :D


Ada yang pengen santai juga di titik nol sehabis subuh?
Cobain deh, terutama teh Rhos tuh yang pengen banget ke nol kilo meter pagi-pagi :)

Tapi memang seru sih, selain masih sepi. Udaranya juga masih sejuk.

Gak lama dari situ aku langsung ke shelter sepeda. Pagi itu aku gak sendirian, kebetulan ada temen yang sedang main ke Jogja. Dan dia pengen banget sepedahan. April namanya. Dan kebetulan banget belum lama di lauching Jogjabike ini. Jadi bisa sepedahan.

April gak sendiri tapi dia bersama ketiga teman-temannya dari kota Bogor. Biasa liburan ke Jogja. Sebelumnya juga ada teh Sha dari Bandung yang liburan ke Jogja juga. Coba baca keseruan teh Sha sama teman-teman disini.

Selain itu, sahabat diary mahasiswa juga ada yang kontak kalau ke Jogja. Ada juga yang memang belum pernah ketemu sebelumnya. Karena tahu dari blog atau medsos diarymahasiswa. Kalian juga boleh kalau ke Jogja berkabar. Ya siapa tahu bisa silaturahmi.

Sekalian kopdar kecil-kecilan juga boleh, aku juga seneng bisa silaturahmi sama SDM. Kadang juga aku suka ikut jalan-jalannya. Pernah ada dari Lombok, Cilacap dan yang lainnya.

Memang, gak mesti bisa anter jalan-jalannya sih, tapi kalau pas longgar pasti ya di usahakan. Makannya berkabar sedari jauh-jauh hari. Selain jalan-jalan kan bisa sekalian cari bahan tulisan untuk diary.

Lanjut ya, pagi itu cuaca cukup mendukung. Alias sudah terlihat pertanda akan cerah. Mulai terbayang bisa nyuci sehari kering. #AnakKost


Kurang lebih pukul 05.30 kami mendatangi shelter sepeda. Udah beberapa kali di coba ternyata gak bisa. Bar code udah di di scan tapi tetep belum bisa juga. Entahlah, padahal sudah pindah dari shelter sepeda yang satu ke yang lainnya.


Ternyata, usut punya usut device pada stang sepeda gak nyala. Tepat pukul enam kurang lima belas menitan, petugasnya baru datang. Dan baru saja beliau cas pake power bank.

Kebetulan selain kami, ada juga mbak Diva yang sedang menunggu. Kami pun ya beru kenal pagi itu. Karena sama-sama gak bisa. Aku lihat juga dia kesusahan untuk scan bar codenya. Maaf ya, Teh aku pasang fotonya disini. Siapa tahu orangnya baca juga :)

Oh, iya, ngomongin ngecasnya pake power bank sempet jadi obrolan antara kami, teh Diva sama petugasnya. Kok kenapa nggak pake aki saja, Mas? Ucap teh Diva.

Mungkin akan diperbaharui lagi gimana baiknya kedepan. Untuk saat ini kata petugasnya masih tahan uji coba sampai akhir tahun 2018. Semoga aja semakin baik ya.


Ternyata memang gak bisa di sewa sebelum di aktifkan device pada stang sepedanya. Dan perlu teman-teman tahu juga jam oprasi penyewaan sepeda ini mulai dari pukul 06.00 - 21.00. Aku saranin sih baiknya pagi. Selain sepi udara masih sejuk juga.

Ya start jam 06.00-an lah, biar kebagian sepedanya. Takutnya semakin siang makin banyak orang yang sewa sepedanya. Apalagi saat ini, yang aku rasa sudah mulai banyak yang tahu.

Waktu itu kami duduk dulu sembari nunggu jam 06.00 pas. Sambil ngobrol-ngobrol juga sih. Kebetulan teh Diva ini asalnya dari Malang. Dan bedanya dia sudah pernah mencoba sebelumnya dihari kemarin. Sedangkan aku belum sama sekali.

Karena capek duduk, aku pindah untuk mendekat ke sepeda. Aku pegang-pegang karena sepedanya mirip banget sama sepedahku di rumah. Yang kebetulan warnanya juga pink. Tapi sudah aku cat jadi hjau saat ini. Kayak fijo ya. Sama ada keranjangnya juga.


Kalau sepeda dari Jogjabike ini selain keranjang ada kring-kringnya juga. Jadi setiap ketemu orang yang bersepeda juga bisa kita bunyikan. Ibarahnya seperti menyapa gitu. Silahkan teman-teman lihat detail sepedanya.

Di keranjang sepedanya agak kotor memang. Itu dari dedaunan pohon yang dekat shalter sepeda. Bukan kotor sih tapi apa sih namanya. Itulah :D


Sepedanya kekinian banget nggak sih. Keren ya. Aku melihatnya malah seperti ada perpaduan gitu. Gini maksudnya, sepedanya model sekarang, tapi stangnya seperti model stang sepeda jaman dulu, aku biasa menyebutnya stang sepeda onta. Kalau kalian nyebutnya apa?



Sembari nunggu dan mumpung sepi, sekalian deh bisa foto-foto juga.


Setelah jam 06.00 dan kebetulan sudah bisa digunakan. Kami langsung scan dan alhamdulilah berhasil. Saatnya bersepeda keliling Malioboro.

Baru aja mau berangkat, petugasnya minta untuk di foto dulu.
Oke lah, bisa buat dokumentasi di blog juga.

Giliran kami berhasil sewa sepeda, eh cuaca tiba-tiba mendung. Takut nantinya deras kami hanya gowes ke depan gedung gubernur Yogyakarta. Sekalian ngobrol sama petugas disitu dan foto-foto. Karena masih pagi jadi masih ada yang sedang bersih-bersih juga.

Foto-foto disini dibolehkan kok, karena kami sudah izin juga. Dengan catatan jangan menginjak rumput yang ada di depan gedung ini.

Oh, iya kalau kalian perhatikan di sepedanya ada tulisan pertamina fondation ya. Besok kalau sepedaku seperti itu tulisannya Diary Mahasiswa Foundation deh :D


Aslinya foto-fotonya bagus, maksudnya kualitas gambarnya. Tapi karena temanku kirimnya via whatsapp jadi pecah gini. Tapi gak apa-apa lah, yang penting ada dokumentasinya.


Semenjak ajak fijo pertama klainya ke tempat ini, sekarang jadi seperti kewajiban gitu kalau gowes sekitaran malioboro mampir kesini. Ya gimana, kalau pagi disaat cuacanya cerah buat background foto bagus.


Masih sepi kan. Iya lah karena masih pagi. Tapi kurangnya mendungnya aja sih. Next deh gowes kesini lagi. Mudah-mudahan cuacanya pas cerah.


Eh, sampe lupa kasih tahu kalian cara sewa sepeda dari Jogjabike ini. Gini temen-temen. Kalian hanya cukup menginstal aplikasi jogjabike. Caranya cukup mudah, download dulu di playstore, terus cari dipencarian dengan kata kunci jogjabike. Kalau sudah tinggal instal dan download.

Aku kasih tahu logo aplikasinya ya. Seperti dibawah ini dan warnanya hijau juga.


Jangan lupa daftar terlebih dahulu untuk bisa menggunakan aplikasinya. Kalian cukup mengisi nama, email dan no handphone.

Kalau sudah lalu datanglah ke Shelter pit dan lakukan scan barcode, setelah itu sepeda bisa dipakai untuk mengelilingi kawasan Malioboro.

Setiap shelter sepeda juga terdapat langkah-langkah untuk menggunakan sepedanya. Jadi bisa kalian pelajari dulu. Gampang kok.



Jadi jojgabike ini ada semacam saldonya teman-teman. Waktu kami tanya langsung sama petugas jogjabike, ternyata ada batasnya. Jadi untuk penyewaan sepeda ini dibatasi 5 jam saja. Misalnya hari pertama kita sewa selama 1 jam, 4 jam sisanya bisa dilanjut besok atau kapan pun kita mau.

Mungkin untuk tahun depan bisa bayar, tapi entah seperti apa tunggu saja. Karena sewa gratis ini sampai akhir tahun 2018 saja. Dan untuk saat ini aplikasinya baru ada di playstore saja, beum ada di IOS.

Di Malioboro sendiri ada 4 titik ShelterPit, diantaranya ada di :
1 Loko coffe
2 Kepatihan Malioboro
3 Mall Malioboro
4 benteng Vredeburg

Lebih lengkapnya silahkan cek route shelter yang ada di Malioboro ya.

source pict:instagram/jogja.bike

Selama kita sewa waktu di aplikasi dan device stang sepeda tetap jalan. Jadi bisa tahu sudah berapa menit kita menggunakan sepeda ini.

Untuk mengembalikannya, kalian cukup gunakan aplikasi untuk menemukan shelter pit terdekat. Misalnya kita sewa sepeda di shelter depan malioboro mall. Nanti disaat mau dikembalikan kita bisa mencari shelter terdekat.

Pagi itu pengennya sebenarnya muter sampai tugu Jogja. Tapi apalah daya, cuaca tak mendukung. Alias hujan, gerimis sih tapi kami buru-buru pergi untuk mengembalikan sepeda. Takutnya hujan semakin deras. Langit sudah semakin gelap.

Tapi setelah di kembalikan ternyata hujan reda, entah kalau siangnya. Pagi itu aku masih berharap cerah kembali agar bisa nyuci kering sehari saja.


Kami mengemabalikan sepeda sesuai di tempat awal pinjam. Jadi kami sekalian kembalikan kesitu juga. Sekalian kembalikan sepeda, sekalian sarapan juga di depan mall. Kalau pagi banyak yang jual sarapan.

Makan depan mall Malioboro cukup mahal sebenarnya. Gini teman-teman, sebagai #AnakKost yang terkadang suka survei duluan soal harga. Ini cukup mahal dibandingkan biasanya.

Satu porsinya pagi itu kalau gak salah Rp.17.000 lebih. Aku sarapan nasi pecel dan minumnya es teh.

Itu mah murah, Ndi?
Apaan mahal.

Iya, tapi ini aku lagi bandingkan harga dari tempat makanan lain di Jogja dengan tempat yang berbeda. Dengan menu yang sama plus minuman yang sama juga. Biasanya aku habiskan 10.000-an atau bahkan bisa kurang.

Bukan berarti aku melarang kalian makan disitu. Bebas kok mau dimana saja. Cuma aku nginformasikan saja.

Kan siapa tahu kalian habis gowes pengen makan juga di tempat itu. Di infokan harganya dulu gak masalah kan..hehe


Tapi wajar aja karena Malioboro kan tempat yang hits lah, aku rasa itu sebanding untuk harga makanannya atau mungkin sewa tempatnya. Bisa juga kan?

Oh, iya satu hal yang perlu kalian ingat dan harus kalian lakukan.
Wajib malah, kalau lupa temannya ingatkan juga ya.

Apa, Ndi?

Baca doa dulu sebelum makan ya :)

Sebenarnya pagi itu gak begitu pengen foto, temen fotoin dan ternyata lumayan. Jadi aku share disini juga.

Aku juga sempat buat videonya lho, sekaligus wawancara petugas Jogjabike juga. Tapi belum bisa aku sisipkan di diary kali ini ya. Masih proses edit belum jadi. Nanti aku secepatnya sisipkan dalam postingan ini ya.


Kira-kira kalian paham kan gimana cara sewa sepedanya. Kalau belum tulis di komen ya, sekalian barangkali mau tanya apa. Tulis aja.

Pengen cepet di bales ya kontak via whatsapp aja..hehe

Segitu dulu aja ya, next aku ceritakan diary gowes lagi. Tunggu aja!
Jangan lupa untuk terus bersyukur dan follow juga official instagram @DiaryMahasiswa :)